Kisah Pilu Vivi Yulistia Rahayu, Legislator Golkar Kabupaten Solok

Anggota DPRD Kabupaten Solok termuda, Vivi Yulistia Rahayu. (Foto: Ist)

T juga mengharapkan Epyardi ke depannya bisa lebih selektif menerima laporan dari masyarakat dan bawahannya.

Apalagi dari para pembisik yang mungkin pernah “terluka” dengan pelayanan dari pemerintah.

Menurutnya, Bupati semestinya juga memiliki pertimbangan matang dan menjalani mekanisme sebagai pimpinan dalam menegur anak buah. Di antaranya dengan memanggil bawahan yang dilaporkan secara baik-baik.

“Tegur dengan cara baik-baik. Jangan ditanggapi dengan emosional, apalagi kasar. Harusnya dipanggil ke kantor, dilakukan klarifikasi, kemudian tegur dengan mekanisme yang elegan dan santun,” katanya.

“Setiap anak buah, jika ditegur dengan santun, dengan pendekatan dari hati ke hati, akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tapi jika ditegur secara agresif, akan terjadi pembangkangan. Bupati kecewa terhadap layanan boleh saja. Mungkin selama ini pelayanan mengecewakan. Tapi menyikapinya harus bijak, santun dan elegan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, T berharap Epyardi Asda untuk juga mendengarkan kendala dan kesulitan para tenaga kesehatan tersebut, sehingga bisa adil dalam bertindak. Misalnya, apakah jumlah tenaga kesehatan mencukupi, peralatan kesehatan apakah memadai, apakah keamanan dan kenyamanan terjamin.

“Tenaga medis juga manusia, bukan robot. Mereka memiliki beragam keterbatasan dan kendala. Nantinya, jika pola dan mekanisme ini tidak dievaluasi, nantinya, tidak hanya di layanan medis. Di bidang-bidang lainnya bisa terjadi. Bahkan, bisa-bisa masyarakat ikut mengeluarkan kata-kata yang melecehkan aparatur sipil negara yang bertugas di bidang pelayanan lainnya,” ujarnya.

Penulis: Niko Irawan
Editor: M Ichsan