Kisah Pilu Vivi Yulistia Rahayu, Legislator Golkar Kabupaten Solok

Anggota DPRD Kabupaten Solok termuda, Vivi Yulistia Rahayu. (Foto: Ist)

Beberapa waktu setelah dilantik, Vivi sudah bisa berkomentar dengan bahasa yang terstruktur rapi.

“Saya ingin mengajak generasi muda, terutama kalangan perempuan untuk tidak takut berpolitik. Mungkin banyak yang mengatakan politik itu seram, kejam, bahkan jahat. Tapi itu tidak benar, karena politik itu indah dan manis. Jika ada yang jahat, mungkin itu adalah oknum yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” ujarnya.

Dinamika Pilkada 9 Desember 2020 Membuat Perubahan Drastis

Masa-masa indah hidup baru para legislator yang ibarat bulan madu, tiba-tiba berubah saat tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Solok dimulai.

Singkat cerita, keberpihakan dan pengusungan calon Bupati dan Wakil Bupati Solok, membuat tensi politik bergerak dinamis, bahkan disebut cukup liar bergerak. Kontestasi akhirnya memunculkan 4 pasang calon.

Partai Golkar mengusung Sekretaris DPD Partai Golkar Sumbar yang juga mantan Wakil Bupati Solok 2 periode, Drs. Desra Ediwan Anantanur, MM, berkoalisi dengan kader PKS Dr. Adli.

Mantan Anggota DPD RI Nofi Candra bergandengan dengan Wakil Bupati petahana Yulfadri Nurdin, SH, diusung Partai NasDem dan PPP.

Partai Pemenang Pileg Kabupaten Solok 2019, Gerindra dan PAN mengusung Capt. Epyardi Asda, M.Mar dan Jon Firman Pandu, SH.

Kontestan terakhir, Ir. Iriadi Dt Tumanggung dan Agus Syahdeman diusung Demokrat, PDI Perjuangan dan Hanura.

Epyardi Asda dan Jon Firman Pandu tampil sebagai kampiun dengan perolehan sekira 59 ribu suara, dengan selisih 814 suara dibanding pasangan Nofi Candra, SE dan Yulfadri Nurdin, SH.