Kisah Pilu Vivi Yulistia Rahayu, Legislator Golkar Kabupaten Solok

Anggota DPRD Kabupaten Solok termuda, Vivi Yulistia Rahayu. (Foto: Ist)

Hal itu dikatakan Epyardi dalam pidatonya usai melantik pejabat eselon III dan eselon IV Pemda Kabupaten Solok di bekas Kompleks Kantor Bupati Solok, Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung, Jumat (29/10/2021).

Dalam pelantikan itu, ayah dari Vivi Yulistia Rahayu, Si Is, SP, diturunkan jabatan dan eselonnya dari eselon II sebagai Kepala Dinas Pertanian ke eselon III sebagai Kabid di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan.

“Saya hanya bisa diam pak. Di satu sisi, mereka (Si Is dan Yuliarni) orang tua saya, tapi di sisi lain, saya melaksanakan tugas partai, sebagai bagian dari “koalisi” pemerintah,” ujarnya, singkat.

“Jangan Melukai Perasaan Masyarakat”

Salah seorang warga asal Nagari Koto Anau, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok berinisial T (50), menilai tindakan ayah kandung Anggota DPR RI dari PAN, Athari Gauthi Ardi itu, sangat tidak bijak dan melukai perasaan masyarakat. Terutama para tenaga kesehatan (Nakes) dan keluarganya.

Menurutnya, hal itu telah merendahkan harga diri membuat malu para Nakes dan keluarganya, karena saat ini, dengan di-posting di media sosial dan TV nasional, semua orang bisa tahu dan menyaksikan sendiri.

“Ini sesuatu yang sangat tidak layak dipertontonkan ke publik. Menghardik, menunjuk-nunjuk dan membentak-bentak bawahan yang dilakukan Epyardi sangat merendahkan harga diri para Nakes. Tindakan yang sangat tidak pantas oleh seorang pemimpin daerah, apalagi ke ibuk-ibuk,” ujarnya.

T mengaku heran dengan sikap netizen yang justru mendukung tindakan “agresif” Epyardi tersebut di media sosial.

Menurutnya, dari kronologis kejadian, terlihat jelas hal ini di-framing untuk memberikan rasa malu dan pencitraan untuk popularitas Epyardi, serta membenarkan tindakan-tindakan kontroversial Epyardi sebelumnya.

Seperti memecat 1.700 THL, menarik 9 ambulans nagari, mengandangkan mobil dinas, hingga menggelar kegiatan Pemkab Solok di Kawasan Wisata Chinangkiek milik Epyardi yang disinyalir tidak memiliki izin operasional.

“Ini seperti di-framing, untuk membenarkan tindakan-tindakan kontroversial Epyardi sebelumnya. Herannya, komentar-komentar netizen di Medsos seakan juga di-framing melegitimasi tindakan itu. Coba renungkan kembali, jika yang dihardik dan dibentak-bentak itu adalah istri, anak, adik, kakak, bahkan orang tua anda. Dan itu dilihat semua orang di Medsos dan televisi nasional. Tentu anda akan beriba hati, jika anda masih manusia,” ujarnya.