Diplomasi Panas, Panglima Angkatan Darat Pakistan ke Iran Bahas Perpanjangan Gencatan Senjata

Panglima Militer Pakistan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menerima Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir di Teheran. (Foto: Kementerian Luar Negeri Iran)

Patrolmedia, Teheran – Panglima Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, terbang ke Teheran menemui Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, membahas soal perpanjangan gencatan senjata.

Pertemuan pada Kamis (16/4/2026) ini menjadi krusial mengingat gencatan senjata yang tengah berjalan kini berada di ujung tanduk.

Perang dahsyat 7 minggu telah terakhir menjungkirbalikkan pasar global dan memutus aliran minyak dunia.

Dilansir media pemerintah Iran, pertemuan tertutup itu membahas upaya memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir minggu depan.

Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Munir datang sebagai representasi yang selama ini menjadi mediator kunci menjembatani komunikasi Washington dan Teheran.

Gedung Putih memberi sinyal putaran negosiasi selanjutnya kemungkinan besar digelar di Islamabad, Pakistan.

Namun, situasi di lapangan sangat mencekam. Gencatan senjata disebut “rapuh” lantaran adanya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Bahkan, Iran mengancam membalas serangan yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan regional di Laut Merah jika blokade tak dicabut.

Perang ini tak sekadar urusan militer, tapi sudah menggebuk ekonomi global. Jalur pengiriman terputus dan infrastruktur sipil hancur dihantam serangan udara.

Meski demikian, ada sedikit angin segar. Harga minyak dunia terpantau turun tipis seiring munculnya harapan akan berakhirnya pertempuran.

Di bursa saham AS, indeks pun sempat melampaui rekor karena optimisme diplomasi ini.

Di sisi lain, tensi antara Israel dan Hizbullah justru tidak mengendur.

Hizbullah terus menghujani Israel utara dengan roket dan drone.

Israel meningkatkan serangan ke Lebanon selatan, terutama di wilayah Tyre, Nabatieh, dan Bint Jbeil.

PM Netanyahu memerintahkan pasukan Israel masuk lebih dalam ke wilayah Lebanon sejauh 8-10 kilometer untuk menciptakan zona penyangga.

Meski ancaman terus bergulir, pejabat regional menyebut AS dan Iran sebenarnya sudah mencapai “kesepakatan prinsip” untuk perpanjangan gencatan senjata.

Saat ini, para mediator tengah menggodok kompromi pada 3 poin panas:

  • Program Nuklir: Iran bersedia membahas tingkat pengayaan uranium, namun bersikeras tetap harus melakukan pengayaan untuk kebutuhan energi.
  • Selat Hormuz: Pengamanan jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
  • Kompensasi Perang: Ganti rugi atas kerusakan infrastruktur akibat konflik.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengultimatum Teheran untuk segera duduk di meja perundingan secara serius.

“Kami lebih memilih melakukannya dengan cara yang baik melalui kesepakatan… Atau kita bisa melakukannya dengan cara yang sulit,” tegas Hegseth di Pentagon.

Ia memastikan AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Trump juga mengancam bakal meluncurkan “bom ekonomi” berupa sanksi baru bagi negara mana pun yang nekat berbisnis dengan Iran jika kesepakatan tak tercapai.

 

(Ipl/Ft)