Patrolmedia, Islamabad – Sejarah baru tercipta di tengah ketegangan Timur Tengah. Amerika Serikat / AS dan Iran akhirnya memulai negosiasi tatap muka secara langsung di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).
Pertemuan AS dan Iran ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang baru berjalan dua minggu.
Dilansir AP, Minggu (12/4), pertemuan tingkat tinggi ini mengonfirmasi upaya serius kedua negara mengakhiri perang yang mengguncang pasar global selama 7 minggu terakhir.
Gedung Putih mengonfirmasi pembicaraan berlangsung alot hingga pukul 22.00 waktu setempat.
Perundingan ini mempertemukan 2 sosok kontras. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran mengutus Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Pertemuan ini menjadi kontak diplomatik paling intens sejak 2013.
Meski begitu, suasana tetap tegang. Vance, yang dikenal memiliki sikap keras, memperingatkan Iran agar tidak “mempermainkan” AS.
Di sisi lain, Qalibaf yang merupakan mantan komandan Garda Revolusi, membawa mandat tegas dari Teheran.
Kedua belah pihak bersama mediator dari Pakistan membahas kelanjutan gencatan senjata yang kini terancam oleh agresi berkelanjutan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran mengajukan sejumlah syarat mutlak atau ‘garis merah’ dalam perundingan 3 pihak ini.
Syarat tersebut di antaranya:
- Kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
- Pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
- Pengurangan serangan Israel di wilayah Lebanon selatan.
“Kami memasuki negosiasi ini dengan ketidakpercayaan yang mendalam,” ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan Iran siap membalas jika kembali diserang.
Di saat perundingan berlangsung, situasi di Selat Hormuz justru memanas.
Militer AS mengerahkan dua kapal perusak untuk memulai pembersihan ranjau demi membuka jalur pelayaran global yang sempat lumpuh.
Presiden Donald Trump bahkan sempat melontarkan pernyataan keras di media sosial.
Ia menuduh Iran melakukan pemerasan lewat penutupan selat.
“AS telah mulai ‘membersihkan’ selat tersebut. Jalur aman akan segera dibuka bagi industri maritim,” tulis Trump.
Namun, klaim ini dibalas media Iran yang menyebut militer mereka berhasil memaksa kapal perusak AS untuk putar balik saat mencoba melintasi selat yang dikuasai Teheran.
Perang hampir 2 bulan ini sudah menelan korban jiwa yang sangat besar, berikut datanya:
Iran: Sedikitnya 3.000 jiwa.
Lebanon: 2.020 jiwa.
Israel: 23 jiwa.
Selain korban jiwa, ekonomi dunia terguncang hebat akibat lonjakan harga energi setelah ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia terputus.
Mengingat besarnya pertaruhan ini, sejumlah pejabat dari Tiongkok, Mesir, Arab Saudi, hingga Qatar dilaporkan hadir di Islamabad untuk memfasilitasi pembicaraan secara tidak langsung.
Dunia kini menanti, apakah pertemuan di Pakistan ini akan menjadi awal dari perdamaian abadi atau sekadar jeda sebelum badai berikutnya.
(Ipl/Ft)






















