Patrolmedia, Dubai – Militer Amerika Serikat (AS) terlibat baku tembak dengan pasukan Iran saat berupaya membuka kembali Selat Hormuz pada Senin, (4/5/2026) waktu setempat.
Dalam pertempuran ini, militer AS mengklaim telah menenggelamkan 6 perahu kecil milik Iran.
Dilansir APNews, ketegangan terjadi di saat Presiden AS Donald Trump mencoba membuka jalur air paling vital bagi energi global tersebut.
Militer AS melaporkan 2 kapal dagang berbendera Amerika telah melintasi selat sebagai bagian dari inisiatif ‘Proyek Kebebasan’.
Namun, Uni Emirat Arab (UEA), sekutu utama AS, melaporkan telah diserang oleh Iran untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata April lalu.
Kementerian Pertahanan UEA menyebut Iran meluncurkan 4 rudal jelajah, 3 berhasil ditembak jatuh, sementara 1 jatuh ke laut.
Tak cuma rudal, serangan drone Iran juga memicu kebakaran di fasilitas minyak utama di emirat Fujairah.
Insiden ini mengakibatkan 3 warga negara India terluka. Sementara itu, militer Inggris melaporkan 2 kapal kargo terbakar di lepas pantai UEA.
AS Klaim Selat Hormuz Kini Aman
Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, menyebut pasukan Amerika telah membuka jalur selat yang sebelumnya dipasangi ranjau Iran.
Ia menyebut Iran sempat meluncurkan rudal, drone, hingga perahu kecil ke arah kapal sipil yang dikawal militer AS.
“Helikopter militer AS menenggelamkan enam perahu kecil. Setiap ancaman telah dikalahkan,” tegas Cooper kepada wartawan.
Ia mengatakan, komandan AS di lapangan punya wewenang penuh untuk membela unit militer maupun pelayaran komersial dari serangan Iran.
Upaya pembukaan selat ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran ekonomi global dan lonjakan harga bahan bakar akibat penutupan jalur oleh Iran.
Namun, langkah “Proyek Kebebasan” ini berisiko menyulut kembali perang skala penuh yang pecah pada Februari lalu.
Trump mengingatkan setiap upaya Iran menyetop lalu lintas selat akan dihadapi dengan kekerasan.
Ia mengklaim misi ini adalah misi kemanusiaan untuk membantu ratusan kapal yang terdampar di Teluk Persia.
Di sisi lain, Teheran mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, bahkan menyebut inisiatif Trump tersebut sebagai bagian dari “delusi”.
(Kml/Ft)






















