Patrolmedia, Washington – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance meminta Iran agar tak mencoba “mempermainkan” negaranya dalam negosiasi mengakhiri perang.
“Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka,” kata Vance kepada wartawan sebelum menaiki Air Force Two menuju lokasi perundingan di Islamabad, Pakistan, dikutip dari AP, Jumat (10/4/2026).
Namun, nada bicara Vance langsung berubah tegas saat memperingatkan pihak Teheran.
Ia memastikan AS tidak akan tinggal diam jika Iran berniat tidak serius dalam perundingan.
“Jika mereka mencoba mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati bahwa tim negosiasi tidak begitu mudah menerima tawaran mereka,” sebut Vance.
Vance diutus Presiden Donald Trump untuk mencari solusi mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 6 minggu.
Pertemuan di Islamabad ini dijadwalkan mulai Sabtu, (11/4/2026).
Misi Vance ini tergolong berat. Sebab, gencatan senjata sementara yang baru disepakati sudah berada di ambang kehancuran akibat perbedaan tajam tuntutan kedua belah pihak.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, lewat media sosialnya menegaskan gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai.
Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Trump bersikeras gencatan senjata tak mencakup Lebanon.
Netanyahu menyebut operasi Israel terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran bakal terus berlanjut.
Salah satu pemicu percepatan negosiasi ini adalah dampak ekonomi perang di dalam negeri AS.
Blokade Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan harga bensin melonjak drastic.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan harga konsumen naik 3,3% pada bulan Maret.
Lonjakan harga bensin bulanan ini tercatat sebagai yang terbesar dalam enam dekade terakhir dan memicu inflasi yang tajam.
Dalam misi diplomatik tingkat tinggi ini, Vance didampingi oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner.
(Ft/Ft)






















