Patrolmedia, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengutus 2 orang kepercayaannya, Steve Witkoff dan sang menantu, Jared Kushner, ke Pakistan untuk misi mengakhiri perang AS vs Iran.
Keduanya dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Islamabad.
Gedung Putih berharap upaya menyudahi perang AS vs Iran ini menjadi pintu masuk menuju kesepakatan damai yang permanen.
“Kami berharap ini akan menjadi percakapan produktif dan menggerakkan situasi menuju sebuah kesepakatan,” ujar Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Pakistan dipilih menjadi lokasi perundingan krusial ini.
Menlu Iran Abbas Araghchi sebelumnya telah melakukan safari ke Rusia dan Oman demi mencari dukungan untuk penghentian serangan AS-Israel ke Iran.
Sebaliknya, AS menuntut Iran menghentikan total program nuklirnya.
Lalu, Wakil Presiden AS, JD Vance, yang sebelumnya memimpin delegasi ke Islamabad, kali ini tidak ikut terbang.
Namun, ia dalam posisi siaga penuh. Jika Witkoff dan Kushner mencatatkan terobosan penting, Vance akan diterbangkan ke Pakistan untuk meresmikan kesepakatan.
Sementara, Iran kabarnya membawa tawaran baru untuk mencairkan ketegangan.
Teheran mempertimbangkan untuk membagi 400 kg uranium kadar tinggi mereka menjadi beberapa paket.
Paket-paket ini akan diencerkan secara bertahap, namun dengan syarat, AS harus mencabut sanksi ekonomi secara spesifik.
Di sisi lain, nada keras datang dari Pentagon. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut AS tidak terburu-buru soal kesepakatan damai.
Ia bahkan mengirim ancaman mematikan bagi pasukan Iran yang berupaya menyabotase jalur laut.
“Angkatan Laut AS tidak akan ragu menembak mati siapa pun di perahu yang mencoba memasang ranjau di laut. Mereka bertindak seperti bajak laut!” tegas Hegseth.
Saat ini, AS sudah memutar balik 34 kapal yang mencoba masuk ke pelabuhan Iran.
Pekan depan, 1 kapal induk tambahan akan bergabung untuk memperketat blokade.
Hegseth mengirim pesan pedas ke Eropa agar berhenti hanya “berkonferensi mewah” dan ikut turun tangan ke lapangan.
“Tidak ada yang boleh berlayar dari Selat Hormuz ke mana pun di dunia tanpa izin dari Angkatan Laut AS,” kata Hegseth.






















