Patrolmedia, Dubai – Angkatan Laut Garda Revolusi Iran atau IRGC menembaki 3 kapal kargo dan menyita 2 di antaranya pada Rabu waktu setempat.
Aksi tegas Teheran ini kembali membuat ketegangan di jalur urat nadi minyak dunia tersebut.
Dilansir Patrolmedia dari Associated Press, Kamis (23/4/2026), eskalasi ini terjadi selang sehari usai Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, tapi tetap mempertahankan blokade pelabuhan terhadap Iran.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi pasukan paramiliter mereka telah menggiring kapal-kapal tersebut ke wilayah Iran.
Hal ini menjadi serangan balasan atas penyitaan dua kapal Iran oleh AS sebelumnya.
Dari laporan perusahaan manajemen Technomar, salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah Epaminondas yang berbendera Liberia.
Kapal ini dicegat dan ditembaki Angkatan Laut Garda Revolusi Iran di lepas pantai Oman.
“Anjungan kapal mengalami kerusakan akibat tembakan,” lapor perusahaan.
Tak berhenti di situ, kapal kedua, MSC Francesca, juga ditembaki beberapa jam kemudian.
Beruntung, tidak ada laporan korban luka dari awak kapal, meski kapal itu disetop paksa di perairan.
Kapal ketiga yang diidentifikasi sebagai Euphoria dilaporkan terdampar di pantai Iran tanpa penjelasan lebih lanjut.
Cekikan Iran di Selat Hormuz, jalur bagi 20% pasokan minyak dunia, langsung membuat pasar energi global terguncang.
Dampaknya terasa hingga ke kantong konsumen di seluruh dunia.
Harga minyak mentah Brent terbang melewati angka $100 per barel (naik 35% dari level sebelum konflik).
Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menyebut gangguan ini merugikan Eropa sekitar 500 juta euro (Rp 8,6 triliun) setiap harinya.
Lalu, meroketnya biaya logistik akibat konflik mulai memicu kenaikan harga makanan dan produk kebutuhan harian di berbagai negara.
Di tengah kebuntuan ini, Teheran justru menunjukkan sikap menantang.
Garda Revolusi memamerkan deretan rudal balistik dan peluncurnya dalam sebuah demonstrasi di ibu kota.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan pihaknya belum memutuskan apakah akan ikut dalam putaran negosiasi baru di Pakistan akhir pekan ini.
“AS mengabaikan dan tidak beritikad baik dalam negosiasi,” tuding Baghaei.
Senada dengan itu, misi Iran di Mesir menegaskan tidak akan ada delegasi yang berangkat sebelum AS mencabut blokade pelabuhan.
Sementara itu, situasi di perbatasan Lebanon-Israel juga tak kalah mencekam.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi seorang pasukan penjaga perdamaian (peacekeeper) Prancis tewas akibat luka tembak usai diserang akhir pekan lalu.
Macron menuding kelompok Hizbullah berada di balik serangan tersebut, meski tuduhan itu dibantah keras.
Hingga saat ini, warga di Teheran hingga Beirut terus dihantui ketidakpastian.
“Kami tidak tahu harus berbuat apa. Apakah akan ada damai atau perang berlanjut?” ujar salah satu warga Teheran, Mashallah Mohammad Sadegh (59).






















