Tren Positif! Investor Pasar Modal di Kepri Terus Naik Hingga 177 Ribu Sepanjang 2025

Investor Pasar Modal di Kepri
Kepala Wilayah BEI Kepri, Indra Novita saat memberikan edukasi dan manfaat menjadi investor pasar modal di Bursa Efek, di Restaurant Renuin, Nagoya Hill Mall, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Patrolmedia)

Patrolmedia, Batam – Kepala Wilayah BEI Kepri, Indra Novita, mencatat pertumbuhan signifikan jumlah investor pasar modal di Kepri mencapai sekitar 177 ribu investor per September 2025.

“Saat ini sudah ada peningkatan ya, yang terus menerus pertumbuhan investor di Kepri. Berdasarkan data yang saya memiliki per september 2025, sekitar 177.000 jumlah investor di pasar modal, investor pasar modal yang ada di wilayah Kepri,” kata Novita di Restaurant Renuin, Nagoya Hill Mall, Sabtu (29/11/2025).

Novi sapaan akrabnya menjelaskan, tren peningkatan jumlah investor sepanjang 2025 itu, menunjukkan cukup tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal dari tahun ke tahun.

“Saat ini memang sudah ada peningkatan yang terus-menerus terkait pertumbuhan investor di Kepri,” katanya.

Menurutnya, pertumbuhan di Kepri ini sejalan dengan tren nasional.

Novi menyebut di seluruh Indonesia, jumlah investor saat ini sudah menembus diangka 19,2 juta.

“Kalau untuk secara nasional saat ini jumlahnya sudah 19.200.000 investor lebih dan hampir menyentuh angka 20 juta,” terang Novi.

“Mari kita tunggu sebentar lagi sudah mencapai 20 juta,” lanjutnya.

Disamping itu, kata Novi, BEI terus memperkenalkan berbagai inovasi produk pasar modal untuk menjangkau lebih banyak investor, terutama generasi muda.

Salah satu produk yang baru saja diluncurkan adalah Single Stock Futures (SSF).

“Ada produk terbaru seperti Single Stock Future yang sudah diluncurkan. Nanti kita akan edukasi lebih detail bersama rekan-rekan media,” ujarnya.

Meski begitu, ia menekankan bahwa masyarakat Kepri perlu terlebih dahulu memahami produk-produk dasar dalam pasar modal sebelum mempelajari instrumen turunan seperti SSF.

Produk utama yang diperdagangkan di pasar modal, kata Novi, antara lain saham, obligasi negara, dan obligasi korporasi.

Produk-produk ini menjadi fondasi pemahaman bagi investor pemula.

Selain itu, untuk masyarakat yang ingin berinvestasi sesuai prinsip syariah, pasar modal juga menyediakan instrumen seperti sukuk negara ritel, sukuk tabungan, serta reksa dana syariah.

Novi menambahkan, investor juga bisa mempelajari instrumen lainnya seperti Exchange Traded Fund (ETF), yang saat ini mulai diminati karena fleksibilitas dan kemudahannya.

“Nanti semua produk yang diperdagangkan di pasar modal bisa dipelajari bertahap. Edukasi akan terus kita dorong agar masyarakat makin paham dan berani berinvestasi,” pungkasnya. (Erwin)