Patrolmedia, Teheran – Presiden AS Donald Trump bersikap masa bodoh di cap dunia internasional sebagai penjahat perang terkait ancaman serangan masif ke infrastruktur sipil Iran.
Trump bersikeras bahwa “kiamat” bagi peradaban di Iran bakal terjadi jika kesepakatan diplomatik gagal total malam ini.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali,” tulis Trump dalam unggahan daringnya, sebagaimana dilansir dari APNews Rabu (8/4/2026).
Meski melontarkan ancaman mengerikan, Trump tetap menyisakan celah kecil diplomasi.
Ia menyebut masih ada kemungkinan “sesuatu yang revolusioner dan luar biasa” bisa terjadi di menit-menit terakhir sebelum deadline berakhir.
Iran Siapkan ‘Rantai Manusia’ di Objek Vital
Merespons ancaman tersebut, Teheran mulai memobilisasi warganya.
Alireza Rahimi, pejabat tinggi Iran, menyerukan mahasiswa, atlet, hingga seniman turun ke jalan dan membentuk rantai manusia mengelilingi pembangkit listrik.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengeklaim lewat akun X miliknya bahwa 14 juta warga telah mendaftar menjadi sukarelawan perang. “Saya sendiri akan bergabung dengan mereka,” tulis Pezeshkian.
Garda Revolusi Iran (IRGC) pun memberi peringatan keras.
Jika Trump nekat, Iran mengancam akan memutus total pasokan minyak dan gas kawasan Timur Tengah bagi AS dan sekutunya selama bertahun-tahun.
Ketakutan menyelimuti warga sipil di Teheran. Serangan udara dilaporkan mulai menghantam lingkungan perumahan di ibu kota.
Militer Israel mengonfirmasi telah membombardir lokasi petrokimia di Shiraz serta jembatan-jembatan strategis di Karaj hingga Tabriz.
“Jika internet, listrik, air, dan gas mati, kami benar-benar akan kembali ke Zaman Batu, persis seperti yang dikatakan Trump,” ujar seorang guru muda di Teheran dengan nada putus asa.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, menyebut jika Trump menyerang infrastruktur sipil dan energi maka, dapat dikategorikan sebagai penjahat perang.
Namun, saat dikonfirmasi, Trump mengaku “sama sekali tidak khawatir” akan tuduhan tersebut.
Konflik ini telah memukul ekonomi global. Iran secara efektif memblokir pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia.
Dampaknya:
- Harga minyak dunia meroket.
- Biaya logistik, harga bensin, hingga bahan pokok di tingkat global melonjak tajam.
Hingga saat ini, mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki dilaporkan tengah “berpacu dengan waktu” untuk mencari kompromi.
Sumber internal menyebut ada komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran yang masih berlangsung.
Iran bersedia membuka Selat Hormuz dengan syarat pencabutan sanksi ekonomi.
Di sisi lain, AS dikabarkan mulai melunak dan terbuka untuk melonggarkan sanksi sektor minyak demi menstabilkan pasar global yang tengah guncang.
Akankah keajaiban diplomatik terjadi sebelum pukul 20.00 waktu Washington? Ataukah ancaman “mati peradaban” Trump akan menjadi kenyataan?
(Iwn/EN)






















