Patrolmedia, Teheran – Presiden AS Donald Trump ancam Iran dengan melontarkan pernyataan, “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika Iran tak kunjung buka Selat Hormuz.
Ancaman mengerikan itu disampaikannya jelang berakhirnya tenggat waktu diplomatik pada pukul 20.00 waktu Washington.
Trump menegaskan kali ini tidak akan ada lagi perpanjangan waktu bagi Teheran.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini (jika kesepakatan gagal),” ancam Trump sebagaimana dilansir dari AP,News Rabu (8/4/2026).
Trump tak cuma menggertak lewat kata-kata. Ia memberi sinyal bakal menghancurkan infrastruktur vital Iran dalam waktu singkat jika permintaannya diabaikan.
Berikut poin-poin ancaman yang memicu kekhawatiran dunia:
- Hancurkan Fasilitas Vital: Trump ancam Iran bakal meratakan semua jembatan dan pembangkit listrik hingga menjadi “puing-puing berasap” dalam hitungan jam.
- Aset Minyak: Trump menyatakan kesiapannya mengerahkan pasukan darat untuk merebut ladang minyak Iran.
- Hapus dari Peta: Dalam retorika yang lebih ekstrem, Trump menyarankan agar seluruh negara tersebut bisa “dihapus dari peta”.
Pernyataan Trump ini memicu reaksi keras dari komunitas internasional.
Para anggota Partai Demokrat di Kongres AS hingga pejabat PBB menilai serangan ke warga sipil dan infrastruktur dasar merupakan pelanggaran berat hukum internasional.
Perwakilan Teheran di PBB, Amir-Saeid Iravani, mengutuk keras pernyataan Trump tersebut.
Ia menyebut ancaman Trump sebagai hasutan untuk melakukan genosida.
“Ini adalah hasutan untuk melakukan kejahatan perang dan berpotensi genosida. Iran akan mengambil tindakan balasan segera dan proporsional jika Trump melancarkan serangan,” tegas Iravani.
Meski deadline belum berakhir, situasi di lapangan sudah memanas. Serangan udara dilaporkan menghantam 2 jembatan, stasiun kereta api, hingga infrastruktur militer di Pulau Kharg yang menjadi pusat produksi minyak Iran.
Di sisi lain, PM Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa jet tempur Israel juga telah menyerang sejumlah jalur logistik di Iran.
Iran Siapkan ‘Benteng Manusia’
Merespons ancaman AS, Presiden Iran menyatakan sedikitnya 14 juta warga sipil termasuk dirinya sukarela untuk berperang melawan AS.
Otoritas Iran juga mengimbau kaum muda membentuk “rantai manusia” di sekitar pembangkit listrik dan objek vital lainnya guna melindungi aset dari potensi serangan udara AS.
Hingga saat ini, upaya diplomasi dilaporkan masih buntu setelah Iran menolak proposal terbaru dari Amerika Serikat.
Sementara itu, dunia kini menanti dengan cemas apa yang akan terjadi saat jarum jam menunjukkan pukul 20.00 di Washington malam ini.
(Iwn/EN)






















