Kassandra Bacon, perempuan asal London, melahirkan bayi laki-laki sehat bernama Landon pada bulan lalu setelah jaringan ovariumnya yang dibekukan selama 23 tahun ditanamkan kembali ke tubuhnya. Kisah ini berawal ketika ia didiagnosis mengidap kanker darah langka pada usia 17 tahun, lalu menjalani rangkaian pengobatan yang sempat menyelamatkan nyawanya tetapi juga mengancam kesuburannya.
Awalnya, kemoterapi membuat penyakit itu masuk masa remisi. Namun, setahun kemudian kanker kembali muncul dengan kondisi yang lebih serius. Dokter menyarankan terapi yang lebih keras dan harus segera dimulai. Saat itu Kassandra masih remaja, sedang belajar mengemudi, dan tengah menghadapi ujian A-level. Ia kemudian menyadari bahwa selain melawan kanker, ia juga harus memikirkan kemungkinan memiliki anak di masa depan.
Pilihan yang paling umum untuk menjaga kesuburan, yakni pembekuan sel telur, tidak bisa ia jalani karena prosedur itu memerlukan beberapa minggu suntikan hormon. Kassandra tidak punya waktu sebanyak itu. Ia lalu meminta dokter mengambil sebagian jaringan ovarium sebelum pengobatan dimulai. Langkah ini masih tergolong eksperimental pada saat itu, tetapi menjadi satu-satunya jalan yang dianggap memungkinkan.
Dokter bedah Sara Matthews, yang kala itu termasuk sedikit tenaga medis di Inggris dengan kemampuan melakukan prosedur tersebut, mengambil empat sampel jaringan dari ovarium Kassandra dan membekukannya. Tidak ada jaminan bahwa jaringan itu akan berguna suatu hari nanti. Meski begitu, pengobatan kanker yang dijalani Kassandra, termasuk transplantasi sumsum tulang dan kemoterapi, berhasil membuatnya kembali bebas dari kanker.
Keberhasilan itu datang dengan konsekuensi besar. Pengobatan agresif merusak ovarium Kassandra, dan pada usia 33 tahun ia mengalami menopause dini. Bertahun-tahun kemudian, saat siap membangun keluarga, ia mulai mencari dokter yang bisa menanamkan kembali jaringan ovarium sehat yang telah disimpan sejak remaja. Pencarian itu memakan waktu hampir satu dekade.
Masalah lain muncul karena prosedur pengambilan jaringan dilakukan sebelum Inggris memiliki aturan khusus tentang transplantasi semacam ini. Akibatnya, Kassandra tidak memiliki dokumen yang kini diwajibkan untuk prosedur tersebut. Matthews tetap mendampinginya dan akhirnya membantu menemukan klinik di Israel yang bersedia menangani kasus itu. Jaringan ovarium Kassandra kemudian dikirim ke Sheba Medical Center di Ramat Gan.
Rencana itu sempat tertunda lagi setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut memicu perang besar di Gaza dan membuat proses medis Kassandra kembali terhenti. Pada Mei 2024, gencatan senjata sementara membuka jalan baginya untuk terbang ke Israel dan menjalani transplantasi. Beberapa jam setelah ia kembali ke Inggris, gencatan senjata itu berakhir. Hanya beberapa bulan setelah prosedur, menstruasinya kembali, dan tidak lama kemudian ia hamil secara alami. Penelitian terbaru menunjukkan transplantasi jaringan ovarium dapat memulihkan fungsi reproduksi pada sebagian besar kasus, dan secara global sudah lebih dari 200 bayi lahir melalui metode ini.






















