JAKARTA — Pelemahan rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, memunculkan kekhawatiran baru bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Di saat yang sama, gejolak di pasar saham setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) ikut menekan indeks dan memicu pergeseran sentimen ke pasar valuta asing serta obligasi.
Di pasar spot, rupiah ditutup di Rp 18.027 per dolar AS, melemah 0,50% atau 89 poin. Sementara itu, kurs acuan Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 18.052 per dolar AS. Level tersebut jauh di atas asumsi kurs dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman menilai, tekanan yang bermula dari pasar saham tidak berhenti di sana. Menurut dia, sentimen negatif terhadap pasar keuangan Indonesia dapat mendorong arus modal keluar, lalu menjalar ke rupiah dan Surat Berharga Negara (SBN). Dalam pandangannya, dampak ke fiskal tidak muncul seketika, tetapi melalui rangkaian tekanan yang saling berhubungan.






















