Berita  

Survei Arawicaksa: 10 Menteri Kabinet Prabowo Dinilai Paling Lemah, Bahlil di Urutan Terbawah

Panbil Mall

Survei Arawicaksa Institute menempatkan 10 menteri Kabinet Merah Putih sebagai pejabat dengan penilaian terburuk dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berada di posisi paling bawah dengan skor rata-rata 1,2, disusul Menteri Desa Yandri Susanto 1,3, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai 1,5, Menteri Perumahan Maruarar Sirait 1,6, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid 1,8.

Temuan itu dipaparkan peneliti senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, dalam rilis pers di Jakarta pada Selasa (13/10). Menurut dia, stabilitas politik selama dua tahun pemerintahan Prabowo relatif terjaga karena dukungan koalisi partai yang besar. Namun, besarnya koalisi juga melahirkan kabinet yang gemuk dan kemudian mendorong Presiden Prabowo beberapa kali melakukan perombakan untuk mengganti menteri maupun pejabat strategis lain.

Rudi menilai sorotan publik terhadap para menteri sangat dipengaruhi oleh gebrakan dan terobosan yang mereka tampilkan. Dalam pandangannya, kinerja para pembantu presiden ikut menentukan citra pemerintahan Prabowo-Gibran di mata masyarakat. Dari hasil survei itu, Arawicaksa tidak hanya mencatat daftar menteri yang dinilai lemah, tetapi juga memetakan 10 pejabat dengan nilai tertinggi.

Di kelompok terbaik, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menempati peringkat pertama dengan skor 8,1 dari skala 0-10. Di belakangnya ada Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan 8,0. Rudi menyebut perhatian Prabowo pada sektor pendidikan terlihat lewat program revitalisasi sekolah yang dijalankan secara besar-besaran dalam dua tahun terakhir.

Sepanjang 2025, program itu menyasar 16.617 sekolah dengan fokus perbaikan gedung yang rusak ringan hingga berat. Pada 2026, cakupannya diperluas hingga 71.744 sekolah, termasuk fasilitas yang terdampak bencana dan sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Arawicaksa juga mencatat adanya kenaikan pada kemampuan dasar siswa, meski persoalan mutu pendidikan dinilai belum sepenuhnya selesai karena skor matematika justru turun dari 366 menjadi 364.

Untuk Amran Sulaiman, survei menyoroti pencapaian swasembada beras yang disebut berhasil diraih dalam waktu singkat. Produksi beras pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen secara tahunan, dan diperkirakan menjadi 34,77 juta ton pada 2026. Dengan angka itu, surplus beras diproyeksikan mencapai 3,56 juta ton. Penyerapan BULOG disebut berada di kisaran 3-4 juta ton per tahun, sementara harga pembelian gabah ditetapkan Rp 6.500 per kilogram.

Selain dua nama teratas, Menteri Agama Nasaruddin Umar meraih skor 7,8, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi 7,5, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono 7,4, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya 7,1. Di bawahnya ada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 6,8, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto 6,7, Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir 6,5, serta Menteri Pertahanan Sjaffrie Sjamsoeddin 6,4. Di sisi lain, Rudi menyoroti pula tekanan pada sejumlah menteri akibat isu publik, mulai dari harga BBM non-subsidi, program Koperasi Desa, hingga dugaan kasus yang menyeret nama pejabat kementerian tertentu.