Teror Pocong Begal: Seniman Jalanan Jadi Korban Salah Sasaran
Maraknya aksi teror yang dilakukan oleh begal bersenjata tajam dengan modus mengenakan kostum pocong belakangan ini telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi para pekerja seni jalanan. Salah satu pihak yang merasakan langsung imbas buruk ini adalah Muhamad Fajar, seorang remaja berusia 16 tahun yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari profesi mengamen dengan kostum pocong. Niat tulus untuk mencari rezeki halal justru berujung pada kesialan baginya, karena ia kerap dicurigai dan bahkan pernah diamankan oleh pihak kepolisian akibat disalahpahami sebagai bagian dari komplotan kriminal tersebut.
Pengalaman Pahit Menjadi Korban Salah Sasaran
Fajar menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya belum lama ini di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat sedang beraktivitas, ia tiba-tiba dihentikan oleh petugas kepolisian. Tanpa penjelasan yang memadai, petugas tersebut langsung meminta Fajar membuka bagian kepala kostumnya dan mengambil foto wajahnya.
“Ya merasa terganggu, apalagi saya yang kena incar entar ya kan, padahal bukan saya. Kayaknya itu foto muka saya paling buat nanti misalnya ada yang merampok atau kayak bagaimana ya kan, mungkin biar tahu oh ini orangnya nih,” ujar Fajar dengan nada prihatin.
Pengalaman tidak menyenangkan tidak hanya datang dari pihak kepolisian. Fajar juga kerap menerima respons negatif dan intimidasi dari masyarakat ketika ia sedang mencari nafkah di ruang publik.
“Katanya, ‘Kamu jangan kostum kayak gini, yang ada nakut-nakutin, nyari uang mah yang bener aja.’ Padahal saya masih umur 16 tahun, belum punya KTP. Kalau udah punya KTP kan enak kayak kerja,” keluh remaja kelahiran tahun 2009 ini. Ia merasa frustrasi karena profesinya yang sah-sah saja kini dipandang sebelah mata akibat ulah segelintir orang yang menyalahgunakan kostum serupa.
Dampak Finansial dan Pembatasan Ruang Gerak
Isu “pocong begal” ini memberikan pukulan telak bagi Fajar. Keterbatasan ruang geraknya dan meningkatnya ketakutan di kalangan masyarakat secara otomatis menyebabkan penurunan drastis pada pendapatan hariannya.
“Penghasilan sih agak turun sedikit karena gara-gara pocong itu. Yang biasa 200, sekarang 150. Kadang 300 jadi 200,” ungkap remaja yang tinggal di kawasan Pondok Kacang ini. Penurunan pendapatan ini tentu sangat memberatkan bagi Fajar yang masih sangat muda dan harus bertanggung jawab atas kebutuhan hidupnya.
Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan dan menghindari kecurigaan yang semakin liar dari masyarakat, Fajar kini terpaksa membatasi jam operasionalnya. Ia tidak lagi berani berkeliling hingga larut malam.
“Kadang dulu pas masih belum viralnya pocong kena kasus itu kan, berangkatnya jam 16.00 WIB sore, pulang jam 22.00 WIB. Pas udah ada isu pocong itu, saya baliknya jadi cepet. Balik jam 20.00 WIB udah,” imbuh Fajar, menunjukkan perubahan drastis dalam rutinitasnya demi keselamatan diri.
Harapan untuk Seniman Jalanan
Kasus yang menimpa Fajar menyoroti betapa rentannya para pekerja seni jalanan terhadap stereotip negatif yang muncul akibat tindakan kriminal. Meskipun mereka berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal, seringkali mereka menjadi korban dari prasangka buruk masyarakat.
Penting bagi masyarakat untuk dapat membedakan antara pelaku kejahatan dan para pekerja seni yang mencari nafkah secara sah. Tindakan preventif dari aparat kepolisian yang lebih bijaksana dalam menangani kasus serupa juga sangat diharapkan, agar tidak menimbulkan ketakutan dan kecurigaan yang tidak perlu bagi pihak yang tidak bersalah.
Dukungan dan pemahaman dari masyarakat akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup para seniman jalanan seperti Fajar. Mereka adalah bagian dari keragaman budaya dan hiburan di ruang publik, dan seharusnya tidak menjadi korban dari narasi negatif yang disebarkan oleh segelintir oknum. Perlu ada upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi semua kalangan, termasuk mereka yang bekerja di jalanan.






















