Patrolmedia, Teheran – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menebar ancaman ke Iran soal selat Hormuz.
Trump bersumpah bakal menyerang pembangkit listrik hingga jembatan, jika Teheran tak kunjung membuka Selat Hormuz melewati tenggat waktu yang ditentukan.
Dilansir dari Associated Press, Senin (6/4/2026), Trump memberikan waktu hingga elasa bagi Iran untuk membuka jalur perdagangan global tersebut.
”Mereka akan hidup di neraka!” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya. Menariknya, Trump mengakhiri gertakan mautnya itu dengan kalimat “Segala puji bagi Allah.”
Ancaman berapi-api Trump ini muncul usai pasukan elite AS berhasil menyelamatkan seorang pilot pesawat F-15E Strike Eagle yang jatuh di wilayah Iran pada Jumat lalu.
Ini adalah pesawat AS pertama yang jatuh sejak perang pecah pada 28 Februari.
Trump menceritakan proses evakuasi yang berlangsung dramatis.
Pilot tersebut ditemukan dalam kondisi luka parah di wilayah pegunungan yang dalam.
”Dia terluka parah dan sangat berani. Diselamatkan dari jauh di dalam pegunungan dalam operasi yang melibatkan puluhan pesawat bersenjata,” kata Trump.
Seorang pejabat senior AS mengungkapkan taktik cerdik CIA dalam misi ini.
Mereka menyebarkan disinformasi di internal Iran untuk membingungkan otoritas setempat saat proses evakuasi berlangsung.
Pihak Iran tak tinggal diam. Mereka membantah narasi heroik AS dan mengklaim telah menembak jatuh pesawat angkut serta helikopter AS saat operasi penyelamatan.
Televisi pemerintah Iran bahkan memamerkan potongan bangkai pesawat yang diklaim milik AS.
Misi Iran di PBB pun bereaksi keras atas ancaman Trump yang menargetkan infrastruktur sipil.
Mereka menyebut itu adalah bukti nyata niat AS melakukan kejahatan perang.
”Trump tampaknya telah menjadi fenomena yang tidak dapat dianalisis sepenuhnya, baik oleh warga Iran maupun Amerika. Dia terus-menerus beralih di antara posisi yang kontradiktif,” cetus Menteri Kebudayaan Iran, Sayed Reza Salihi-Amiri.
Iran bersikeras hanya akan membuka selat jika sebagian pendapatan transit dipakai buat ganti rugi perang.
Tak cukup sampai di situ, Teheran juga mengancam akan mengganggu jalur perdagangan di Selat Bab el-Mandeb yang menuju Terusan Suez.
Kondisi ini membuat pasar global berguncang dan harga bahan bakar melonjak tajam dalam 5 minggu terakhir.
Saat ini, upaya diplomatik masih diupayakan Oman dan Mesir guna mendinginkan suasana jelang tenggat waktu dari sang Presiden AS berakhir.
(Ipl/EN)






















