
Seolah ada sesuatu yang runtuh dari langit-langit dadanya.
Jonrius menghembuskan napas panjang. Seketika terdiam, seakan tidak percaya perjuangannya sudah berakhir. Ia lulus.
Ia bukan hanya mahasiswa yang berhasil mempertahankan skripsi. Ia adalah kepala keluarga yang membawa pulang kemenangan. Ia adalah anak yang ingin membanggakan ibunya. Ia adalah suami yang berjanji bahwa perjuangan ini akan selesai.
“Puji Tuhan…,” hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Cornelius masuk ke ruangan lebih dulu. Ia memeluk ayahnya. Nelly mengikuti. Di tengah ruang akademik yang formal, cinta keluarga mengambil alih segalanya.
“Kami bangga sama Bapak,” bisik mereka.
Mungkin tidak semua orang mendengarnya. Tapi Jonrius mendengar. Jelas sekali.
Sang istri, Lianni Nababan, memang tak bisa hadir karena kewajiban pekerjaan. Namun dukungan yang ia kirimkan terasa nyata.
“Perjuangan ini kami jalani bersama. Hari ini Tuhan menjawab,” katanya.
Kabar kelulusan itu cepat menyebar. Dari pimpinan kampus hingga sahabat, ucapan selamat datang silih berganti.
Rektor UNRIKA, Prof. Dr. Hj. Sri Langgeng Ratnasari, S.E., M.M., menyebut keberhasilan itu sebagai bukti bahwa ketekunan selalu menemukan jalannya.
Dekan Fakultas Hukum, Dr. Dwi Afni Mailani, S.H., M.H., menilai hasil tersebut adalah buah dari kegigihan yang panjang.
Kaprodi Ilmu Hukum, Dr. Rizki Tri Anugrah Bhakti, S.H., M.H., percaya Jonrius akan membawa nama baik almamater di tengah masyarakat.
Namun semua ucapan itu masih menyisakan satu kejutan paling dalam.
Tiga jam setelah sidang selesai, telepon dari sang ibu berdering.
Tidak ada yang memberi tahu beliau tentang ujian hari itu. Ia hanya merasa ingin mendengar suara anaknya.
Begitu Jonrius berkata, “Mak, aku sudah lulus. Sudah Sarjana Hukum,” di seberang sana langsung terdengar ucapan syukur.
Jonrius kemudian menirukan kata-kata ibunya, dengan logat yang akrab di telinganya sejak kecil.
“Berarti ini gerakan batin. Aku tidak tahu, cuma mau tanya kabarmu saja tadi.”
Jonrius terdiam lama setelah panggilan itu berakhir karena terbayang kepada almarhum Ayahnya yang tidak bisa menyaksikan keberhasilannya itu.
Di dunia ini, mungkin memang ada cinta yang tidak perlu diberi kabar. Ia selalu tahu kapan harus datang.
Senja turun perlahan di halaman kampus. Jonrius berdiri di antara kedua anaknya, dikelilingi teman-teman seperjuangan. Kamera menangkap senyum, pelukan, tawa yang pecah setelah sekian lama ditahan.
Ia menatap gedung itu sebentar.
Tempat ia lelah.
Tempat ia belajar.
Tempat ia menang.
Hari itu, namanya berubah.
Jonrius Sinurat, S.H.
Dua huruf kecil, namun di belakangnya ada doa seorang ibu, cinta seorang istri, pelukan anak-anak, dan seorang lelaki yang tidak pernah berhenti percaya bahwa ia bisa sampai di garis akhir.





















