Handoko mengatakan, saat ini BRIN berwenang melakukan penelitian dan pengembangan, eksplorasi dan eksploitasi mineral radioaktif, produksi bahan baku untuk pembuatan bahan bakar nuklir, penelitian dan pengembangan untuk menyokong produksi radioisotop, serta pengelolaan limbah radioaktif.
Ia menyebutkan, berbagai program dan kegiatan penelitian difokuskan pada beberapa bidang penting seperti energi, pangan, kesehatan dan obat-obatan, sumber daya alam dan lingkungan, industri, serta penelitian bahan maju untuk meningkatkan kesejahteraan dan daya saing negara.
“Semua kegiatan iptek nuklir dilaksanakan secara profesional untuk tujuan damai dengan memperhatikan prinsip-prinsip keselamatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan,” katanya.
Dalam riset nuklir di bidang pangan, BRIN telah mengalami kemajuan luar biasa dalam mengembangkan varietas tanaman unggul melalui teknik pemuliaan mutasi radiasi.
Sejak tahun 1970-an, kerja sama dengan FAO/IAEA telah dilakukan termasuk penerimaan bantuan peralatan canggih serta pelatihan ekstensif dalam penguasaan teknologi mutasi radiasi.
“Lebih dari lusinan varietas tanaman baru, seperti kedelai dan padi, telah dikembangkan melalui program tersebut,” terang Handoko.
“Layak untuk saya sampaikan juga, teknologi nuklir Indonesia telah berhasil mengembangkan berbagai sediaan obat radiofarmasi untuk rumah sakit dan kedokteran sebagai bentuk kontribusi sains dalam meningkatkan kualitas kesehatan hidup,” sambungnya.






















