Hoaks Pocong Bercelurit di Bangkalan Terbongkar, Pelaku Minta Maaf
Sebuah video yang menampilkan sosok menyerupai pocong membawa celurit sempat membuat heboh masyarakat Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir. Rekaman yang beredar luas di media sosial ini menunjukkan sesosok makhluk berkain putih mendatangi rumah warga, mengetuk pintu dan jendela, yang kemudian menimbulkan keresahan dan kekhawatiran. Narasi yang menyertai video tersebut semakin memperkuat kegelisahan karena menyebutkan kejadian berlangsung di Kecamatan Kamal, Bangkalan. Berbagai unggahan di media sosial bahkan memunculkan spekulasi dan cerita tambahan yang menciptakan kesan adanya teror misterius di kawasan tersebut.
Namun, setelah dilakukan penelusuran mendalam oleh pihak berwenang, pemerintah kecamatan memastikan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta. Video yang viral tersebut dipastikan bukan terjadi di wilayah Kecamatan Kamal.
Klarifikasi resmi disampaikan oleh Camat Kamal, Ainul Yaqin, usai mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila di Kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan. “Kejadian teror pocong di Kamal itu tidak benar. Hoaks semua itu, tidak ada yang namanya pocong,” tegas Ainul Yaqin. Pernyataan ini menjadi bantahan tegas terhadap berbagai narasi yang berkembang di media sosial selama beberapa hari terakhir, yang bertujuan untuk membuat masyarakat takut keluar rumah.
Lokasi Kejadian Sempat Membingungkan Warga
Sebelum pemerintah memberikan penjelasan resmi, lokasi dalam video viral tersebut sempat menjadi perdebutan di kalangan masyarakat. Awalnya, video tersebut disebut terjadi di Desa Kebun, Kecamatan Kamal. Tidak lama kemudian, muncul informasi lain yang menyebutkan lokasi berada di Desa Binajuh, yang juga masih berada dalam wilayah Kecamatan Kamal. Perbedaan informasi ini membuat masyarakat semakin bingung dan resah. Sebagian warga bahkan mengaku khawatir untuk beraktivitas pada malam hari karena takut menjadi sasaran teror yang sama.
Untuk memastikan kebenaran informasi, pihak kecamatan bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kamal melakukan penelusuran langsung. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa kejadian dalam video tidak terjadi di wilayah Kecamatan Kamal sebagaimana narasi yang beredar di media sosial.
Sengaja Dibuat untuk Menakut-nakuti Masyarakat
Pemerintah Kecamatan Kamal menegaskan bahwa tidak ada laporan maupun kejadian serupa yang terjadi di wilayahnya. Aparat keamanan juga rutin melakukan pemantauan keamanan bersama unsur terkait. Ainul Yaqin mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi viral yang belum terverifikasi. “Hoaks semua, karena setiap malam kami bersama Muspika selalu berkoordinasi. Masyarakat jangan percaya, karena itu ingin membuat masyarakat takut keluar rumah,” ujarnya.
Pemeran Pocong Viral Muncul ke Publik dan Minta Maaf
Di tengah polemik yang terus berkembang, sebuah video lain beredar yang menampilkan seorang pemuda berinisial SF memberikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat. Dalam video berdurasi sekitar 43 detik itu, SF mengaku sebagai pemeran utama dalam konten pocong yang sempat viral. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada Kepala Desa Mrandung, warga Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, serta masyarakat Bangkalan secara umum.
Dalam pernyataannya, SF mengakui keterlibatannya dalam pembuatan konten tersebut dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Beberapa poin penting yang disampaikan dalam video permintaan maaf tersebut antara lain:
- Meminta maaf kepada pemerintah desa dan masyarakat setempat.
- Mengakui keterlibatan dirinya sebagai pemeran utama dalam konten pocong tersebut.
- Berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.
- Menyatakan tidak akan membuat konten serupa yang dapat meresahkan masyarakat.
Video klarifikasi ini direkam dengan didampingi oleh sejumlah tokoh masyarakat dan personel dari Polsek Klampis, menunjukkan keseriusan dalam penanganannya.
Diduga Ada Tiga Orang yang Terlibat
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pembuatan video pocong viral tersebut tidak dilakukan seorang diri. Selain SF yang diduga menjadi pemeran utama, terdapat dua pemuda lain yang disebut ikut terlibat. Salah satunya berinisial KD yang diduga bertugas mengatur rekaman CCTV, sementara ZH disebut sebagai pihak yang merencanakan pembuatan konten tersebut. Meskipun demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi lebih lanjut mengenai proses penanganan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam pembuatan video tersebut.
Kasus video pocong viral di Bangkalan ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah konten digital dapat memicu kepanikan publik ketika disebarkan tanpa verifikasi yang memadai. Dalam era media sosial yang serba cepat, narasi yang sensasional sering kali menyebar lebih dahulu dibandingkan fakta yang sebenarnya. Akibatnya, masyarakat berpotensi mengalami keresahan bahkan mengubah aktivitas sehari-hari berdasarkan informasi yang belum tentu benar. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi viral serta tidak langsung menyebarkan konten yang belum terkonfirmasi sumber dan kebenarannya.
Pocong Bercelurit di Pamekasan: Sebuah Pengingat Lain
Kasus serupa juga sempat terjadi di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, di mana warga digegerkan oleh beredarnya sebuah foto yang menampilkan sosok menyerupai pocong di halaman rumah pada malam hari. Foto tersebut tersebar luas melalui tangkapan layar percakapan WhatsApp dan menyebar ke berbagai grup warga. Narasi yang menyertai menyebutkan lokasi kejadian berada di Kelurahan Kangenan, Kecamatan Pamekasan.
Informasi ini membuat sejumlah warga sempat percaya dan ikut membagikan ulang di media sosial. Salah satu warga Kangenan, Sulaiman, mengaku turut menerima dan melihat foto tersebut di beberapa grup WhatsApp. “Sempat menggegerkan warga. Bahkan sempat menyebar di grup-grup wali kelas sekolah SD,” kata Sulaiman. Karena lokasi yang disebut berada di wilayah tempat tinggalnya, Sulaiman sempat mencoba menelusuri kebenaran foto tersebut. Namun, setelah dilakukan pengecekan, ia memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar. “Informasi itu hoaks. Tapi sempat membuat orang saling bertanya kebenarannya,” ujarnya. Ia juga menduga bahwa rumah yang terlihat dalam foto bukan berada di Kelurahan Kangenan, melainkan di daerah lain yang tidak sesuai dengan narasi yang beredar.
Selain itu, dalam pesan yang viral itu juga disebutkan bahwa sosok “pocong” membawa celurit, sehingga menambah kekhawatiran warga. Warga lainnya, Ahmadi, juga menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan suasana rumah dalam foto tidak dikenal sebagai bagian dari Kelurahan Kangenan. Kepala Seksi Humas Polres Pamekasan, Ipda Yoni Evan Pratama, turut menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar dan tidak ada laporan resmi terkait kejadian seperti yang viral di media sosial.
Kasus di Pamekasan ini kembali menunjukkan bagaimana narasi horor lokal seperti “pocong” masih sangat mudah viral di masyarakat, terutama ketika disebarkan melalui grup WhatsApp yang bersifat tertutup dan cepat dipercaya. Minimnya verifikasi sebelum membagikan informasi membuat isu yang belum jelas kebenarannya dapat dengan cepat berubah menjadi kepanikan sosial kecil di tingkat komunitas. Penggunaan elemen visual misterius tanpa konteks yang jelas sering menjadi pemicu utama munculnya hoaks berbasis ketakutan. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital, terutama dalam membedakan antara konten hiburan, editan, dan informasi faktual yang dapat dipertanggungjawabkan.
















