Kondisi Internal Semen Padang FC yang Mengkhawatirkan
Andre Rosiade akhirnya angkat suara dan membongkar kondisi internal Semen Padang FC setelah resmi terdegradasi dari Super League 2025/2026. Hal ini terjadi setelah kekalahan 0-1 dari Dewa United yang memastikan Kabau Sirah turun kasta. Kekecewaan suporter pun meluas, seiring dengan munculnya isu krisis finansial kronis dan kebutuhan dana minimal Rp 25 miliar untuk bangkit.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Hingga Semen Padang FC Terdegradasi?
Semen Padang FC dipastikan turun ke Liga 2 setelah gagal meraih poin saat bertandang ke markas Dewa United di Banten International Stadium. Kekalahan tersebut membuat mereka tidak mampu keluar dari zona merah dengan maksimal hanya 29 poin dari tiga laga tersisa.
Gol semata wayang dalam laga itu dicetak oleh Noah Sadaoui pada menit ke-31 melalui sundulan tanpa kawalan. Sepanjang pertandingan, tekanan dari Rafael Struick dan Egy Maulana Vikri membuat Semen Padang FC kesulitan mengembangkan permainan.
Bagaimana Andre Rosiade Menggambarkan Kondisi Klub?
Andre Rosiade menyebut dirinya bukan pemilik maupun manajemen, melainkan suporter yang memiliki tanggung jawab moral. Ia mengaku sudah mendukung Semen Padang FC sejak usia tiga tahun dan tetap setia hingga kini. “Siapa Andre Rosiade? Andre Rosiade sama statusnya dengan suporter-suporter yang lain. Saya suporter sejak usia 3 tahun,” ujarnya.
Ia menegaskan kontribusinya selama ini adalah bentuk kecintaan, bukan kewajiban struktural. Ia juga mengungkap kondisi keuangan klub yang sudah bermasalah sejak lama. “Sejak 2017, Semen Padang FC mulai mengalami kesulitan finansial. Bahkan puncaknya di 2019, tim ini mau dijual,” katanya.
Seberapa Berat Beban Finansial yang Ditanggung?
Musim ini, beban keuangan Semen Padang FC disebut sangat besar dan tidak sebanding dengan pemasukan. PT Semen Padang sebagai pemilik hanya mampu memberikan sekitar Rp15 miliar. Andre Rosiade menambahkan dirinya ikut menutup kekurangan dana. “Saya menyediakan dan membantu sponsor hampir 20 miliar rupiah,” katanya.
Setiap pertandingan kandang membutuhkan biaya sekitar Rp 211 juta. Namun pemasukan dari tiket rata-rata hanya berkisar Rp 130 juta hingga Rp 180 juta. “Faktanya mayoritas pertandingan kandang kita ngombok,” ujarnya. Bahkan kontribusi kelompok suporter rata-rata hanya sekitar Rp 30 juta.
Benarkah Klub Bergantung pada Bantuan Pribadi?
Andre Rosiade secara terang-terangan mengungkap banyak operasional klub bergantung pada inisiatif pribadi. Ia menyebut beberapa nama seperti Braditi Moulevey dan Yeyen Tumena dibiayai secara personal. “Saya taruh Braditi Moulevey untuk komisaris, tidak dibayar. Yeyen Tumena juga saya gaji pribadi,” katanya. Semua itu dilakukan di luar dana Rp 20 miliar yang sudah ia bantu carikan.
Ia juga menegaskan tidak ikut campur dalam urusan teknis tim. “Yang mencari pemain itu manajemen, keputusan juga manajemen dan pelatih,” ujarnya. Andre Rosiade membantah tudingan politisasi klub. “Saya tidak pernah datang ke acara kelompok suporter untuk politik. Jangan mengada-ada,” katanya.
Rencana Besar Setelah Degradasi
Di tengah kondisi sulit, Andre Rosiade tetap menyampaikan rencana jangka panjang, termasuk renovasi Stadion Haji Agus Salim. Stadion tersebut akan dibangun ulang dengan kapasitas 12.000 hingga 13.000 kursi. “Stadion itu kita yang perbaiki, dari jogging track sampai videotron,” ujarnya. Ia menyebut proyek ini sudah mendapat dukungan APBN dan sedang dalam proses lelang.
Targetnya, pembangunan dimulai pertengahan tahun setelah musim berakhir. Ia optimistis stadion baru bisa meningkatkan profesionalisme klub. “Insya Allah Juni-Juli sudah mulai dibangun, satu tahun selesai,” katanya.
Mengapa Butuh Rp 25 Miliar untuk Bangkit?
Andre Rosiade menegaskan kebutuhan dana untuk kembali bersaing di Liga 2 tidak kecil. Ia menyebut angka minimal Rp 25 miliar untuk bisa menjadi juara dan promosi. “Untuk juara Liga 2, dibutuhkan minimal 25 miliar rupiah,” tegasnya. Tanpa angka tersebut, ia menilai Semen Padang FC hanya akan menjadi tim pelengkap.
Saat ini, kemampuan pendanaan diperkirakan hanya sekitar Rp 10–15 miliar. Bahkan itu pun masih bergantung pada persetujuan dari holding dan pihak terkait. “Apakah Semen Indonesia Group bisa membantu? Apakah disetujui? Itu belum tentu,” ujarnya.
Pesan Terakhir untuk Suporter
Di akhir pernyataannya, Andre Rosiade mengajak seluruh suporter untuk bersatu dan menjaga klub. Ia menegaskan kondisi saat ini adalah realita yang harus diterima bersama. “Nasi sudah jadi bubur. Semua sedih, saya juga sedih,” ujarnya. Ia meminta tidak ada saling menyalahkan di tengah situasi sulit.
Andre Rosiade juga menyoroti minimnya dukungan finansial dari suporter. “Faktanya dukungan sangat minim, itu terlihat dari penjualan tiket,” katanya. Ia menutup dengan ajakan penuh emosi. “Mari kita jagolah lai, sama-sama. Kita introspeksi dan bekerja lebih keras lagi,” ucapnya.
Degradasi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang Semen Padang FC untuk bangkit. Namun satu hal jelas, tanpa dukungan finansial kuat, mimpi kembali ke kasta tertinggi akan tetap berat.




















