Daerah  

Eskalator LRT SMB II Mati, Penumpang Terpaksa Tarik Koper Manual

Panbil Mall

Eskalator LRT Bandara SMB II Mati, Penumpang Keluhkan Kesulitan Bawa Barang

Masyarakat pengguna Light Rail Transit (LRT) yang terhubung dengan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang kini menghadapi kendala serius. Fasilitas eskalator yang seharusnya memudahkan mobilitas penumpang, justru dilaporkan seringkali tidak berfungsi. Kondisi ini menimbulkan keluhan dan ketidaknyamanan yang signifikan, terutama bagi para penumpang yang membawa barang bawaan berat seperti koper dan tas.

Keluhan ini ramai dibagikan di berbagai platform media sosial, menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya dialami oleh segelintir orang, melainkan menjadi isu yang dirasakan oleh banyak pengguna LRT. Para penumpang terpaksa harus bersusah payah menggeret barang-barang mereka secara manual, sebuah tugas yang semakin berat ketika harus naik atau turun melalui eskalator yang mati. Situasi ini menjadi lebih krusial dan memberatkan bagi kelompok rentan, seperti para lansia, ibu hamil, atau penumpang yang membawa banyak barang.

Beban Ganda Penumpang: Dari Perjalanan Hingga Tarik Koper

Pengguna LRT yang sehari-hari melintasi rute ini seringkali mendapati kondisi eskalator yang tidak beroperasi. Salah satu keluhan yang muncul dari akun Instagram @oypalembang menggambarkan kekecewaan mendalam.

“Eskalator di lrt bandara ni mati trs pecaknyo Minoy, brp kali flight balik pake lrt, selalu samo. kito yg masih mudo be tekacip, apolagi yg wongtuo tadi. Tolong bantu posting min, mention pihak terkait, biar baju bandara kito,” tulis akun tersebut, menyuarakan harapan agar pihak berwenang segera memperbaiki fasilitas vital ini.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kesulitan fisik, tetapi juga mencoreng citra bandara internasional yang seharusnya memiliki fasilitas prima. Menariknya, LRT merupakan salah satu moda transportasi penting yang menghubungkan kota dengan bandara, menjadikannya pilihan utama bagi banyak penumpang. Namun, dengan matinya eskalator, kenyamanan yang seharusnya ditawarkan justru berbanding terbalik dengan realitas yang dihadapi penumpang.

Respons Warganet: Seruan Perbaikan dan Spekulasi

Postingan mengenai matinya eskalator LRT ini sontak menuai beragam tanggapan dari warganet. Banyak dari mereka yang turut menyuarakan kekecewaan dan mendesak pemerintah serta pihak terkait untuk segera menindaklanjuti masalah ini.

Beberapa komentar menunjukkan dugaan adanya pemotongan anggaran operasional:

  • “Lrt sepi mkn anggaran di irit.”
  • “Iyo cak mno malu maluin be kato nyo nak jadi bandara internasional tpi eskalator cak ini be dak bs di benerin apo di pake.. @lrtsumselofficial @palembangairport @ratudewa”

Sementara yang lain lebih fokus pada dampak langsung terhadap kenyamanan penumpang:

  • “Iya kenapa ya gak di hidupi aja? Yg turunan jg ngeri bawa koper. Syg bgt”
  • “Tp gimana ya, mereka pasti efisiensi jg soal biaya operasional”
  • “Nak hemat listrik tuh… Mangkonyo dipidemke…”

Komentar lain menyoroti lamanya masalah ini terjadi dan dampaknya pada penumpang dengan kondisi khusus:

  • “Ya allah la lamo nian mati ni.. lg bunting+byk bawaan, eskalator mati pulak @syahriramadhansimangunsong”
  • “Fix sdh desember , hampir 1 thn tulisan lg dibeneri wkwkwk”
  • “Bener nian,dak bener2 rusak nyo”
  • “Dari awal thn 2025 min cak itu. Ini lah nak 2026. Dari dulu tulisannya dalam perbaikan”

Beberapa warganet bahkan memberikan saran alternatif, meskipun itu menunjukkan betapa parahnya kondisi fasilitas yang ada:

  • “bahaya juga kan ya, harusnya sedian tangga aja kalau sekiranya bakalan sering rusak”

Ada pula yang mencoba melihat dari sisi humor, namun tetap menyindir kondisi yang ada:

  • “Bagi anak muda dibawah 40 anggap aja fitnes ya. Tapi buat aki2…”

Harapan untuk Perbaikan dan Peningkatan Layanan

Kondisi eskalator LRT Bandara SMB II yang sering mati ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pengelola transportasi publik di Palembang. Penting bagi pemerintah daerah dan pihak terkait, termasuk pengelola LRT dan bandara, untuk segera merespons keluhan masyarakat ini. Perbaikan fasilitas yang memadai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut keselamatan, citra, dan efektivitas transportasi publik itu sendiri.

Diharapkan, setelah adanya sorotan publik dan masukan dari warganet, pihak berwenang akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dan pemeliharaan eskalator LRT. Investasi pada perbaikan dan perawatan fasilitas publik yang terhubung langsung dengan bandara internasional seperti ini merupakan langkah krusial dalam meningkatkan kualitas layanan dan memberikan pengalaman perjalanan yang positif bagi semua pengguna.