Kabut Asap Mengganggu Aktivitas CFD di Palembang
Hari CFD (Car Free Day) yang biasanya ramai dengan warga yang berolahraga di Kota Palembang, kembali sepi pada Minggu (23/8/2026). Kegiatan rutin yang digelar setiap hari Minggu mulai pukul 05.30 hingga 09.00 WIB ini terpaksa dibatalkan sementara akibat kabut asap tebal yang mengurangi visibilitas.
Kabut asap tersebut menutupi pandangan mata dan membuat suasana menjadi gelap. Meskipun masih ada warga yang berolahraga, jalan-jalan utama seperti Jalan Sudirman, KH Bastari, dan Jakabaring terlihat lengang. Banyak warga yang memilih untuk tetap berada di dalam rumah karena khawatir akan kesehatan dan keselamatan.
Banyak dari mereka yang keluar rumah menggunakan masker sebagai perlindungan. Namun, kondisi ini tetap memberikan risiko, terutama bagi pengendara kendaraan. Sorot lampu kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, hanya terlihat pada jarak sekitar 1–5 meter karena tertutup kabut. Hal ini meningkatkan potensi kecelakaan jika pengemudi tidak menyalakan lampu kendaraan saat melintas.
Firmansyah (46), salah satu warga yang ditemui di kawasan Jakabaring, mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap kabut asap. Ia merasa sangat terganggu karena aktivitas olahraga paginya terganggu oleh kabut yang menutupi pandangan mata. Ia juga menyebutkan bahwa kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan, termasuk memicu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Selain mengganggu pandangan mata yang bisa menimbulkan kecelakaan, asap tebal ini juga dapat menimbulkan penyakit ISPA, apalagi jika tidak menggunakan masker saat keluar rumah,” ujarnya.
Firmansyah berharap Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan segera menindaklanjuti masalah pembakaran lahan agar kabut asap tidak kembali mengganggu masyarakat. Ia menilai pemerintah harus cepat tanggap dalam menanggulangi kabut asap ini.
Ia juga meminta agar pelaku pembakaran lahan ditindak tegas. “Dan sudah bertahun-tahun adanya pembakaran lahan ini. Kalau memang dibakar dengan sengaja, seharusnya pelaku-pelaku itu diamankan,” tegasnya.
Sementara itu, Fatimah (38), warga Sako, Palembang, juga menyampaikan harapan serupa. Ia berharap Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan segera turun tangan mengatasi persoalan kabut asap. Ia menilai, jika kabut asap terus terjadi, maka anak-anak sekolah akan menjadi korban terbesar.
“Harus cepat turun tangan. Ini baru terjadi di hari pertama. Jika terjadi kembali, kasihan anak-anak sekolah, apalagi anak yang masuk pagi. Asap ini juga dapat menimbulkan penyakit ISPA,” tutupnya.
Kabut asap juga terjadi di sejumlah wilayah lainnya, seperti kawasan belakang JSC, Kertapati, Gandus, serta sejumlah titik di pinggir Tol Kayu Agung. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah kabut asap bukan hanya terbatas pada satu daerah, tetapi telah menyebar ke berbagai wilayah di Kota Palembang.






















