Pergantian Pimpinan Badan Gizi Nasional: Evaluasi Kinerja dan Kontroversi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan signifikan pada jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN, Dadan Hindayana, dicopot dari jabatannya, digantikan oleh wakilnya, Nanik Sudaryati Deyang. Keputusan ini juga berdampak pada pencopotan dua wakil kepala lainnya. Perubahan ini dilakukan setelah evaluasi kinerja lembaga tersebut selama kurang lebih satu setengah tahun masa pemerintahan berjalan.
Pengumuman resmi mengenai pergantian ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa malam, Juni 2026. “Maka pada hari ini, Selasa, tanggal Juni 2026 tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” ujar Prasetyo Hadi.
Langkah ini diambil di tengah berbagai sorotan publik dan media terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program unggulan dari pemerintahan Prabowo Subianto. Sejumlah isu dan kontroversi yang melibatkan Dadan Hindayana selama menjabat sebagai Kepala BGN menjadi latar belakang utama dari perombakan ini.
Sederet Kontroversi Dadan Hindayana Selama Menjabat
Selama masa kepemimpinannya, Dadan Hindayana kerap menjadi pusat perhatian publik akibat sejumlah pernyataan dan kebijakan yang menimbulkan perdebatan. Berikut adalah beberapa kontroversi yang paling disorot:
Klaim Konsumsi Susu 2 Liter per Hari untuk Pertumbuhan Tinggi Badan
Dadan Hindayana pernah mengemukakan bahwa konsumsi susu sebanyak 2 liter setiap hari sejak kecil hingga kelas 2 SMA telah membantu kedua anaknya tumbuh dengan tinggi badan yang signifikan, yaitu 181 cm dan 185 cm. Ia berargumen bahwa tinggi badan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, melainkan juga oleh asupan gizi yang cukup dan seimbang. Pernyataan ini disampaikan saat peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bangkalan pada Senin, 26 Mei 2025.
Namun, klaim ini segera menuai kritik dari kalangan pakar kesehatan. Dokter ternama, Tan Shot Yen, secara tegas menyatakan bahwa pernyataan Dadan tidak berdasar dan menyebutnya “SESAT!!!!!” melalui unggahan di media sosial pada Selasa, 27 Mei 2025.Wacana Serangga sebagai Sumber Protein dalam Menu MBG
Ide untuk memasukkan serangga, seperti ulat sagu yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal, sebagai sumber protein dalam komposisi menu MBG juga menimbulkan reaksi keras. Dadan menjelaskan bahwa BGN tidak menetapkan standar menu nasional, melainkan standar komposisi gizi. Oleh karena itu, menu dapat bervariasi di setiap daerah, disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi anak-anak setempat.
“Itu salah satu contoh ya, kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, itu bisa menjadi menu di situ,” ujar Dadan saat ditemui di Jakarta pada Sabtu, 25 Januari 2025. Ia menekankan bahwa peluang memasukkan menu lokal seperti serangga sangat bergantung pada potensi sumber daya dan kebiasaan masyarakat setempat, serta meminta agar pernyataannya tidak disalahartikan.Keterkaitan Gizi Pemain Sepak Bola dengan Performa Timnas
Pernyataan Dadan mengenai dugaan keterkaitan antara kualitas gizi pemain sepak bola Indonesia dengan performa tim nasional juga menjadi sorotan. Ia berpendapat bahwa kesulitan Timnas Indonesia bermain selama 90 menit disebabkan oleh gizi yang kurang baik dan latar belakang banyak pemain yang berasal dari daerah pedesaan.
Pernyataan ini mendapat tanggapan tajam dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani. Ia menyayangkan Dadan terlalu berlebihan dalam mengaitkan PSSI dengan masalah makanan bergizi dan menyatakan bahwa Kepala BGN seharusnya tidak menyampaikan statement yang menyudutkan gizi pemain timnas.Kasus Keracunan Makanan Program MBG
Serangkaian kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG menimbulkan kekhawatiran publik dan kritik terhadap BGN. Dadan Hindayana sempat menyebut bahwa kasus keracunan tersebut hanya menimpa sebagian kecil siswa. Pernyataan ini dianggap meremehkan dan menciderai kekhawatiran orang tua mengenai kualitas makanan yang disajikan.
Koalisi Kawal Pendidikan Jakarta, melalui anggotanya Irwan Aldrin, mengecam pernyataan tersebut sebagai tindakan yang “sangat luar biasa bodoh dan tidak bertanggung jawab.” Ia berargumen bahwa penderitaan anak-anak tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar angka statistik.Pengadaan Motor Operasional MBG
Viralnya video yang menampilkan sejumlah sepeda motor berlogo BGN memicu spekulasi di masyarakat. Dadan Hindayana mengklarifikasi bahwa pengadaan motor tersebut merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025 yang ditujukan untuk mendukung operasional Program MBG, khususnya bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menjelaskan bahwa mekanisme pengadaan dan pembayaran telah sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 84 Tahun 2025. Hingga batas waktu yang ditentukan, hanya 85,01% unit yang berhasil diselesaikan oleh penyedia, dan sisa dana dikembalikan ke kas negara.
Aktivitas Golf Saat Terjadi Bencana
Sebuah video yang menunjukkan Dadan Hindayana bermain golf di tengah bencana banjir dan longsor di beberapa wilayah Sumatra sempat viral. Aktivitas ini dianggap publik sebagai bentuk kurangnya empati.
Dadan kemudian memberikan klarifikasi bahwa acara golf tersebut adalah acara alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bertujuan untuk menggalang dana bagi korban bencana. Ia mengklaim bahwa acara tersebut berhasil mengumpulkan donasi ratusan juta rupiah, yang sebagian dialokasikan untuk korban banjir di Aceh dan sebagian lagi untuk beasiswa.Pengangkatan Pegawai SPPG Menjadi ASN
Salah satu kontroversi lain yang mewarnai masa jabatan Dadan Hindayana adalah kebijakan pengangkatan pegawai SPPG menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) PPPK. Dadan menyatakan bahwa kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan yang telah lama bertugas akan diangkat menjadi ASN PPPK per 1 Februari.
Sementara itu, pegawai inti SPPG yang baru bergabung akan menunggu giliran untuk diangkat. Kebijakan ini menimbulkan berbagai tanggapan dan pertanyaan mengenai proses serta kriterianya.
Alasan di Balik Perombakan Pimpinan BGN
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa keputusan pencopotan Dadan Hindayana, yang dilantik pada Agustus 2024, beserta dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Soni Sanjaya, merupakan hasil dari proses monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan selama hampir satu setengah tahun terakhir.
“Tentunya selama 1 setengah tahun melakukan monitoring dan evaluasi, banyak catatan-catatan yang kemudian itu menjadi dasar pertimbangan oleh Bapak Presiden untuk melakukan pergantian ini dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat segera untuk kita perbaiki,” ujar Prasetyo Hadi.
Beberapa pertimbangan utama yang mendasari perombakan ini meliputi:
- Kedisiplinan dalam Menjalankan SOP: Terdapat catatan terkait kedisiplinan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) di lingkungan BGN.
- Tata Kelola Makanan: Masalah kedisiplinan juga mencakup tata kelola makanan yang seharusnya telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.
- Jaminan Kualitas Makanan: Penekanan diberikan pada kedisiplinan dalam menjaga kualitas makanan yang diproduksi dan didistribusikan melalui program-program pemerintah, termasuk MBG.
Pergantian ini diharapkan dapat membawa perbaikan signifikan dalam kinerja BGN dan memastikan program-program terkait gizi masyarakat berjalan lebih efektif dan akuntabel.




















