Jerit Histeris Istri Sopir Bus ALS yang Menunggu Kepulangan Suami, Tidak Percaya Jadi Korban Meninggal

Kehilangan Mendalam: Kisah Siti dan Kecelakaan Bus ALS yang Menewaskan Zulpan Effendi

Siti (40), istri dari Zulpan Effendi, seorang sopir serep bus ALS asal Medan, mengaku masih tak percaya bahwa suaminya menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan maut bus ALS di Muratara, Sumatra Selatan. Kejadian tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarganya, terutama bagi Siti yang langsung menjerit setelah mendengar kabar tersebut.

Zulpan Effendi diketahui telah bekerja selama lebih dari dua puluh tahun sebagai sopir bus. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang terbiasa membawa penumpang melintasi rute ke Jawa Tengah. Kini, ia meninggalkan dua anak, seorang laki-laki dan perempuan, yang kini harus hidup tanpa ayahnya.

Kabar duka itu datang saat Siti sedang mencuci piring di rumahnya pada malam hari. Saat itu, temannya memberi tahu bahwa bus ALS yang mengalami kecelakaan adalah bus yang dikemudikan oleh suaminya. Siti awalnya tidak percaya karena ia yakin suaminya akan pulang ke rumah malam itu juga. Namun, setelah menyalakan ponselnya, pesan dukacita mulai berdatangan dari keluarga, kerabat, dan rekan-rekannya.

“Terus kubilang, bukan itu, karena suamiku pulang ke rumah malam ini,” ujar Siti dengan suara terisak. “Menjeritlah aku di situ. Enggak nyangka aku. Enggak rela aku dia pergi.”

Siti memilih untuk menunggu jenazah suaminya di kampung halamannya, Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, alih-alih pergi ke Palembang. Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatra Utara, Bobby Afif Nasution, hadir di loket bus PT ALS di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, untuk berdiskusi singkat dengan pihak PT ALS.

Sebelumnya, sebuah bus ALS bertabrakan dengan truk tangki muatan minyak milik PT Seleraya di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selanta. Kecelakaan tersebut menewaskan 16 orang, termasuk beberapa anggota kru bus ALS dan penumpang lainnya.

Identifikasi Korban yang Telah Dilakukan

Proses identifikasi korban kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki BBM di perlintasan Muratara mulai membuahkan hasil. Dari total 16 korban jiwa, Tim DVI Polri bersama tim medis RS Bhayangkara Palembang telah berhasil mengidentifikasi sebagian besar korban.

Berikut adalah daftar korban yang telah teridentifikasi:

  • Aryanto (49) – Pengemudi Mobil Tangki Seleraya (Warga Lubuk Linggau).
  • Martoni (48) – Penumpang Mobil Tangki Seleraya (Warga Musi Rawas Utara).
  • Alif (44) – Pengemudi Bus ALS (Warga Jawa Tengah).
  • Saf (50) – Kenek Bus ALS (Warga Medan).
  • Maleh (42) – Kru Bus ALS (Warga Medan).
  • Relodo – Penumpang Bus ALS.
  • Zulkifli – Penumpang Bus ALS.
  • Aldi Sulistiawan – Penumpang Bus ALS.
  • Rani – Penumpang Bus ALS (Istri Aldi Sulistiawan).
  • Bela – Penumpang Bus ALS (Anak dari Aldi dan Rani).
  • Celinton – Penumpang Bus ALS.
  • Hisyamsiah Bachri – Penumpang Bus ALS.
  • Sukardi – Penumpang Bus ALS.
  • Salim – Penumpang Bus ALS.
  • Budiyanto – Penumpang Bus ALS.
  • Barhul Ulum – Penumpang Bus ALS.

Empat Korban Selamat

Hingga saat ini, tercatat ada empat orang yang berhasil lolos dari maut. Tiga di antaranya mengalami luka bakar serius akibat ledakan minyak mentah dan tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Rupit:

  • Jumiatun (35) – Warga Pati, Jawa Tengah (Luka bakar).
  • Ngadiono (44) – Warga Pati, Jawa Tengah (Luka bakar).
  • Muhammad Fahrul Hubaidi (31) – Warga Tegal (Luka bakar).

Satu korban lainnya, M. Fadli bin Ibrahim (30), kenek Bus ALS asal Riau, hanya mengalami luka lecet ringan dan telah diperbolehkan pulang.

Proses Identifikasi Jenazah yang Memakan Waktu

Polda Sumatera Selatan resmi membuka Posko Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan, Palembang, Kamis (7/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat identifikasi 16 jenazah korban kecelakaan maut bus ALS vs truk tangki BBM di Muratara yang tiba di Palembang sekitar pukul 05.10 WIB hingga pukul 05.32 WIB.

Kabid Dokkes Polda Sumsel, AKBP Andrianto, menjelaskan bahwa proses identifikasi menjadi tantangan berat bagi tim medis. Hal ini dikarenakan mayoritas korban ditemukan dalam kondisi luka bakar serius yang menyulitkan pengenalan secara fisik.

Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh keluarga yang merasa memiliki anggota keluarga di dalam bus ALS tersebut untuk segera mendatangi Posko DVI. Keluarga diminta membawa data-data pendukung untuk proses identifikasi primer maupun sekunder, antara lain:

  • Identitas resmi (KTP/Kartu Keluarga/ijazah).
  • Data medis (hasil rontgen gigi, catatan medis, atau ciri fisik khusus).
  • Data profil DNA jika diperlukan.

Proses identifikasi jenazah akan memakan waktu selama beberapa hari dikarenakan kondisi jenazah yang mengalami luka bakar. “Karena kondisi jenazah mengalami luka bakar, proses identifikasi cukup sulit dan membutuhkan waktu beberapa hari. Untuk membantu identifikasi, kami mulai mendata dari pihak keluarga mengenai ciri-ciri korban,” tutur Andrianto.