Kebakaran Hutan dan Upaya Perlindungan di Sulawesi Barat
Data yang dirilis oleh Global Forest Watch (GFW) menunjukkan bahwa kebakaran menjadi penyebab 5 persen kehilangan tutupan pohon di Sulawesi Barat selama periode 2001 hingga 2025. Angka ini menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap ancaman kebakaran hutan yang masih menjadi isu serius di wilayah tersebut.
Selain itu, berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Hutan Indonesia (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, luas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Barat pada tahun 2025 mencapai 1.079,43 hektare. Data ini diinputkan hingga bulan Maret 2026, sehingga menunjukkan adanya peningkatan kejadian kebakaran dalam beberapa tahun terakhir.
Patroli Partisipatif di Wilayah KPH Mapilli
Untuk mengatasi ancaman tersebut, patroli perlindungan kawasan hutan dilakukan secara partisipatif di wilayah lanskap KPH Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), pada tanggal 6–7 Mei 2026. Patroli ini dilakukan di beberapa desa, termasuk Desa Kelapa Dua dan Desa Kunyi di Kecamatan Anreapi, serta Desa Mirring dan Desa Batte Tangnga di Kecamatan Binuang.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, seperti personel Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mapilli, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulawesi Barat, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan warga sekitar kawasan hutan. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan kawasan hutan tetap aman dari aktivitas pembukaan lahan dan penebangan liar.
Peran Patroli Rutin dalam Pencegahan Kejadian Buruk
Polisi Kehutanan KPH Mapilli, Herwandi, menekankan bahwa patroli rutin sangat penting untuk menjaga keamanan kawasan hutan. Ia menyampaikan bahwa masyarakat harus merawat hutan baik di dalam maupun di pinggir kawasan, dengan tidak membuka lahan yang sudah tertutup dengan menebang pohon.
Menurutnya, menjaga tutupan hutan juga bertujuan untuk melindungi mata air dan memitigasi risiko longsor yang dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. “Karena kami sangat menjaga mata air dan memitigasi longsor. Kalau longsor, pasti menutup jalan dan bisa menghambat perekonomian,” ujar Herwandi.
Hasil Pemantauan dan Komentar Warga
Berdasarkan hasil pemantauan tim patroli, wilayah Desa Kelapa Dua relatif aman dari kebakaran dalam kawasan hutan. Namun, kebakaran terjadi di luar kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus terus dilakukan agar tidak menyebar ke area hutan.
Warga Desa Mirring, Usman, yang turut serta dalam patroli menyatakan bahwa perlindungan hutan sangat penting bagi keberlangsungan sumber air dan pertanian masyarakat. “Kalau hutan aman, ya air juga aman karena di sekitar sini banyak sawah,” ujarnya.
Dukungan Program untuk Konservasi Hutan
Kegiatan patroli partisipatif ini didukung melalui Program Result Based Payment (RBP) REDD+ GCF Output 2 dengan Yayasan Sulawesi Cipta Forum (SCF) sebagai lembaga perantara program di Sulawesi Barat. Dengan dukungan ini, diharapkan upaya konservasi hutan akan semakin efektif dan berkelanjutan.






















