JAKARTA – Sebuah kejadian baku tembak terjadi di dekat Gedung Putih, Amerika Serikat, pada Senin (waktu setempat). Insiden ini melibatkan petugas Secret Service dan seorang pria bersenjata. Akibatnya, tersangka serta seorang remaja yang berada di lokasi mengalami luka.
Menurut Wakil Direktur United States Secret Service, Matthew Quinn, peristiwa tersebut terjadi beberapa blok di selatan Gedung Putih, tepatnya di kawasan National Mall, dekat Monumen Washington. Agen berpakaian preman yang sedang berpatroli mengidentifikasi individu mencurigakan yang diduga membawa senjata api. Setelah dilakukan pemantauan, agen tersebut meminta dukungan dari petugas berseragam.
“Setelah melakukan kontak, individu tersebut melarikan diri dengan berjalan kaki, kemudian mengeluarkan senjata api dan melepaskan tembakan ke arah agen dan petugas kami,” ujar Quinn dalam konferensi pers. Petugas Secret Service membalas tembakan dan berhasil melumpuhkan tersangka, yang kemudian dilarikan ke rumah sakit setempat. Hingga saat ini, kondisi tersangka belum diungkap secara rinci.
Dalam insiden tersebut, seorang remaja yang berada di sekitar lokasi turut mengalami luka akibat tembakan. Quinn menyebut korban mengalami cedera yang tidak mengancam jiwa dan sedang mendapatkan perawatan medis. Pihak berwenang memastikan tidak ada indikasi bahwa tersangka secara khusus menargetkan Gedung Putih maupun iring-iringan kendaraan Wakil Presiden JD Vance, yang diketahui melintas di area tersebut tidak lama sebelum kejadian.
Situasi keamanan di Gedung Putih sempat diperketat. Para jurnalis yang berada di kompleks tersebut diarahkan menuju ruang briefing untuk pengamanan, sementara aparat menutup sebagian area dengan garis polisi. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan di lokasi, dengan sejumlah jurnalis berlari meninggalkan halaman Gedung Putih. Puluhan petugas Secret Service serta anggota Garda Nasional terlihat dikerahkan untuk mengamankan area.
Meski demikian, acara yang dihadiri Presiden Donald Trump bersama pelaku usaha kecil tetap berlangsung sesuai jadwal. Presiden tidak memberikan pernyataan terkait insiden tersebut.
Peristiwa ini terjadi hanya lebih dari sepekan setelah insiden keamanan lain di Gedung Putih, ketika seorang pria bernama Cole Allen diduga menerobos pos pemeriksaan dengan membawa senjata api dalam acara White House Correspondents’ Dinner. Menurut aparat, Allen diduga menembak seorang petugas Secret Service sebelum akhirnya diamankan. Ia kini menghadapi sejumlah dakwaan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap presiden.
Insiden terbaru ini kembali menyoroti tantangan keamanan di sekitar Gedung Putih, meskipun pengamanan di kawasan tersebut termasuk yang paling ketat di dunia.
Ancaman terhadap Presiden Amerika Serikat
Ancaman terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bukan lagi sekadar potensi, melainkan telah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks polarisasi politik yang semakin tajam di AS, Trump menjadi salah satu presiden dengan tingkat ancaman pembunuhan tertinggi dalam sejarah modern.
Insiden paling mencolok terjadi pada 14 Juli 2024 saat kampanye di Butler County, Pennsylvania. Dalam peristiwa tersebut, Trump terluka setelah tembakan dilepaskan ke arah panggung. Agen Secret Service segera mengevakuasi Trump, sementara pelaku yang kemudian diidentifikasi sebagai Thomas Matthew Crooks ditembak mati di lokasi.
Ancaman serupa kembali terjadi pada September 2024 di resor golf milik Trump di Florida. Seorang pria bersenjata, Ryan Wesley Routh, terdeteksi di sekitar lapangan sebelum akhirnya dilumpuhkan aparat. Jaksa kemudian menyatakan Routh terbukti merencanakan pembunuhan terhadap presiden dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Rangkaian ancaman tidak berhenti di situ. Pada 2025, seorang anggota kepolisian New York, Melvin Eng, dilaporkan menyusup ke acara publik dengan membawa perlengkapan taktis lengkap dan menyamar sebagai bagian dari pengamanan presiden. Insiden ini memicu penyelidikan internal dan penonaktifan sementara terhadap yang bersangkutan.
Memasuki 2026, ancaman semakin nyata. Seorang pria bersenjata yang membawa senapan dan bahan bakar ditembak mati setelah mencoba menerobos perimeter keamanan di Mar-a-Lago, Florida. Pelaku diidentifikasi sebagai Austin Tucker Martin, namun motif aksinya belum terungkap secara jelas.
Insiden paling mutakhir terjadi pada 25 April 2026 saat acara White House Correspondents’ Dinner di Washington DC. Dalam peristiwa tersebut, seorang agen Secret Service tertembak saat berusaha menghentikan pelaku yang mencoba mendekati presiden. Trump dilaporkan selamat tanpa luka. Pelaku, Cole Tomas Allen, diketahui membawa beberapa senjata dan perlengkapan taktis.
Para analis menilai rentetan kejadian ini mencerminkan meningkatnya kekerasan politik di Amerika Serikat. Pakar dari Penn State, James Piazza, menyebut polarisasi politik yang ekstrem telah menciptakan lingkungan sosial yang tegang dan berpotensi memicu aksi kekerasan.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, AS juga diwarnai berbagai aksi kekerasan politik, mulai dari penyerbuan Gedung Capitol pada 2021 hingga serangan terhadap tokoh politik dan fasilitas pemerintahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap figur publik, termasuk presiden, kini menjadi bagian dari dinamika politik domestik yang semakin kompleks dan berisiko tinggi.






















