China: Selat Hormuz Jangan Harap Stabil Jika Perang Iran Vs AS-Israel Terus Membara

Selat Hormuz
Sebuah kapal tanker gas LPG berlabuh karena lalu lintas menurun di Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Shinas, Oman, 11 Maret 2026. (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)

Patrolmedia, Beijing – Menteri Luar Negeri (Menlu) Tiongkok, Wang Yi, memberikan peringatan keras terkait situasi keamanan di Selat Hormuz.

Wang menyebut jalur pelayaran vital tersebut akan terus berada dalam kondisi tidak stabil jika perang Iran melawan AS-Israel yang sedang berlangsung, tidak segera dihentikan.

​Pernyataan tersebut disampaikan Wang Yi saat melakukan pembicaraan via telepon dengan Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, Kamis (2/4).

Wang menegaskan gangguan navigasi di Selat Hormuz merupakan dampak langsung atau ‘limpahan’ dari konflik yang tak kunjung usai.

​”Masalah navigasi melalui Selat Hormuz adalah dampak lanjutan dari konflik yang sedang berlangsung. Selat Hormuz akan tetap tidak stabil jika perang tidak berakhir,” ujar Wang Yi seperti dikutip dari Xinhua, Jumat (3/4/2026).

​Wang Yi, yang juga anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, menyoroti perang di Iran yang telah pecah selama lebih dari sebulan.

Menurutnya, konflik ini telah menimbulkan korban jiwa yang masif dan merusak stabilitas keamanan di Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya.

​Menanggapi hal itu, Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud menyampaikan bahwa negaranya sangat menghargai peran strategis China dalam urusan internasional.

Arab Saudi menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan koordinasi dengan China, termasuk di forum PBB, guna mendorong de-eskalasi situasi.

​Dalam percakapan tersebut, Wang Yi kembali mengingatkan soal inisiatif 5 poin yang digagas China bersama Pakistan.

Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan perdamaian di kawasan Teluk dan Timur Tengah, dengan fokus pada:

  • ​Pengamanan kedaulatan negara-negara Teluk.
  • ​Penghentian serangan terhadap warga sipil.
  • ​Perlindungan terhadap target non-militer.
  • ​Jaminan keamanan jalur pelayaran internasional.
  • ​Fokus pada penghentian permusuhan.
  • ​Sentil Dewan Keamanan PBB

Lebih lanjut, Wang Yi menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah menghentikan permusuhan. Ia juga memberikan catatan kritis terhadap langkah-langkah yang diambil oleh Dewan Keamanan PBB.

​”Tindakan Dewan Keamanan PBB harus menghindari peningkatan konfrontasi dan tidak boleh melegitimasi operasi militer yang tidak sah,” tegas Wang.

​Ia memperingatkan, jika langkah yang diambil salah, maka masalah akan menjadi berkepanjangan.

Wang menyebut negara-negara kecil dan menengah bakal menjadi pihak pertama yang menanggung dampak terburuk dari ketidakstabilan tersebut.

 

(Iwn/EN)