Patrolmedia, Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim militer AS telah membuat Iran “hancur lebur” dan meminta warga Amerika yang mulai skeptis untuk memberinya sedikit waktu lagi.
Pernyataan itu disampaikan saat pidato Trump pada Rabu (1/4/2026) waktu AS atau Kamis (2/4) waktu Indonesia.
”Kita sedang melakukan operasi militer ini, begitu dahsyat, begitu cemerlang, melawan salah satu negara terkuat selama 32 hari, dan negara itu telah hancur lebur. Pada dasarnya benar-benar bukan lagi ancaman,” ujar Trump.
Dalam pidato berdurasi 20 menit itu, Trump tampak menurunkan tensi provokatifnya.
Hal ini terjadi di tengah guncangan pasar global serta fakta bahwa Iran ternyata masih mampu memberikan pukulan telak terhadap pangkalan AS dan infrastruktur negara-negara Teluk.
Minta Warga AS Bersabar
Trump sadar betul bahwa rakyat AS mulai jenuh dengan konflik yang berkepanjangan.
Ia pun mencoba membandingkan durasi perang Iran dengan sejarah perang AS lainnya, mulai dari Perang Dunia hingga Perang Vietnam, untuk meyakinkan bahwa apa yang ia lakukan jauh lebih singkat.
”Seluruh dunia sedang menyaksikan, dan mereka tidak percaya akan kekuatan, ketangguhan, dan kecemerlangan ini,” kata Trump percaya diri.
Meski begitu, janji Trump untuk “menyelesaikan pekerjaan” tak cukup ampuh menenangkan pasar.
Harga minyak dilaporkan melonjak dan saham-saham di Asia rontok setelah ia bersumpah AS akan terus menghantam Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Kepercayaan diri Trump tampaknya berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.
Berdasarkan jajak pendapat AP-NORC pertengahan Maret lalu, sekitar 59% warga Amerika menilai aksi militer terhadap Iran sudah melampaui batas.
Selain itu, kecemasan publik akan ekonomi kian nyata. Sebanyak 45% responden mengaku “sangat khawatir” tidak mampu membeli bensin dalam beberapa bulan ke depan.
Angka ini melonjak tajam dari 30% pada survei sebelumnya.
Kubu oposisi tak tinggal diam. Senator Demokrat Chris Murphy melancarkan kritik pedas terhadap pidato tersebut.
Menurutnya, klaim kemenangan Trump tidak sesuai dengan kenyataan di Selat Hormuz yang masih mencekam.
”Pidato Trump didasarkan pada kenyataan yang hanya ada dalam pikiran Donald Trump. Kita tidak bisa menghancurkan semua rudal atau drone mereka. Iran justru memproyeksikan kekuatan yang lebih besar,” cetus Murphy.
Demokrat menyoroti kegagalan Trump memberikan rencana konkret untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz yang vital bagi tanker minyak dunia.
Menariknya, dalam pidato tersebut Trump tidak memberikan sinyal akan melakukan invasi darat.
Ia tampak menghindari opsi pengiriman pasukan untuk mengamankan cadangan uranium Iran yang terkubur di bawah reruntuhan situs nuklir.
Trump menegaskan fokus utamanya tetap memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Ia mengeklaim AS memegang kendali penuh melalui pengawasan satelit.
”Jika kita melihat mereka bergerak, bahkan hanya sekadar mencoba, kita akan menyerang mereka lagi dengan rudal yang sangat keras. Kita memegang kendali penuh. Mereka tidak memegang kendali sama sekali,” tegasnya.
(Ipl/Ft)






















