Perang AS-Israel: Ambisi Trump, Ancaman Kuba, dan Target Iran di Dubai

Iran Membalas Serangan, Trump Tuntut Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Ketegangan di Timur Tengah Meningkat Pasca Serangan Drone dan Rudal Iran ke Target AS dan Israel

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Sabtu mengklaim telah melancarkan gelombang serangan balasan yang menargetkan aset-aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Serangan ini merupakan respons langsung terhadap apa yang mereka sebut sebagai serangan udara yang menargetkan fasilitas sipil dan infrastruktur vital Iran.

Menurut pernyataan resmi IRGC, sebuah hotel di Dubai dihantam oleh drone kamikaze yang dilaporkan menargetkan “unsur-unsur AS di wilayah tersebut.” Selain itu, enam kapal pendaratan Amerika Serikat tipe LCU yang berada di Pelabuhan Shuwaikh, Kuwait, juga menjadi sasaran serangan. IRGC mengklaim bahwa tiga kapal tersebut tenggelam dan tiga lainnya mengalami kerusakan parah. Operasi yang diberi nama “True Promise-4” ini dilaporkan menggunakan rudal Qadir 380 dengan jangkauan 1.000 kilometer.

Pihak Iran juga mengklaim telah membalas serangan AS dan Israel terhadap wilayahnya dengan gelombang serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan-serangan ini dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan jadwal penerbangan.

Trump Mendesak Iran untuk Membuka Kembali Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan tuntutan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga melontarkan kritik keras terhadap sekutu NATO Eropa, seperti Prancis, Jerman, dan Inggris, karena menolak untuk bergabung dalam koalisi yang ia bentuk untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

“Ketika saat-saat ini tiba, Anda akan tahu siapa teman sejati Anda,” ujar Trump saat berbicara di hadapan seribu investor di forum FII Priority di Miami. Ia menekankan bahwa operasi militer terhadap Iran berjalan “dua minggu lebih cepat” dari jadwal yang seharusnya.

Trump sebelumnya telah memperpanjang tenggat waktu bagi Teheran untuk menerima persyaratannya hingga 6 April, dengan alasan “permintaan pemerintah Iran.” Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran sangat ingin bernegosiasi dan “memohon untuk membuat kesepakatan.”

Presiden AS itu menggambarkan kemajuan militer AS dalam menghancurkan gudang senjata, pabrik rudal dan drone, serta membongkar basis industri pertahanan Iran. Ia bahkan mengomentari kondisi kepemimpinan Iran, menyatakan bahwa “Pemimpin Tertinggi mereka tidak lagi tertinggi; dia sudah mati. Putranya sudah mati atau dalam kondisi sangat buruk.” Trump sempat bercanda menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” sebelum mengoreksi dirinya sendiri.

Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan keyakinan bahwa pertemuan antara kedua negara akan berlangsung minggu depan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperkirakan perang akan berakhir “dalam hitungan minggu, bukan bulan.”

Trump juga memuji Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, menyebutnya sebagai “pejuang” dan “sahabat baik.” Forum tersebut diselenggarakan oleh dana kekayaan negara Saudi, PIF.

Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Trump memperingatkan, “Kuba selanjutnya, omong-omong,” sebelum meminta media untuk mengabaikan pernyataannya, namun kemudian mengulanginya. Ancaman ini menambah daftar panjang ancaman operasi militer AS, termasuk penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang juga sempat disebut oleh Trump.

Fasilitas Industri Iran Menjadi Target Serangan Udara

Pernyataan IRGC tentang serangan balasan muncul menyusul laporan serangan udara yang menargetkan pusat-pusat industri strategis Iran. Dua produsen baja terbesar, Mobarakeh Steel Company di Isfahan dan Khouzestan Steel Company, dilaporkan mengalami kerusakan serius. Koalisi AS-Israel juga disebut menyerang pembangkit listrik nuklir sipil di wilayah Yazd dan Arak.

Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan musuh telah melampaui batas. Sebagai bentuk balasan, IRGC menyatakan akan membidik pabrik-pabrik dan perusahaan di seluruh kawasan Timur Tengah yang memiliki keterkaitan modal atau afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Kali ini, persamaannya bukan lagi mata balas mata. Tunggu saja!” tegas Mousavi.

Demi menghindari jatuhnya korban jiwa dari pihak warga sipil, IRGC mengeluarkan instruksi evakuasi darurat bagi seluruh karyawan perusahaan yang berafiliasi dengan AS dan “rezim Zionis,” serta warga yang tinggal dalam radius satu kilometer dari lokasi industri tersebut.

Serangan terhadap fasilitas nuklir di Yazd dan Arak disebut menjadi pemicu utama kemarahan Teheran, mengingat fasilitas tersebut merupakan infrastruktur sipil vital bagi ketahanan energi nasional.

Sebagai bagian dari pembalasan, IRGC mengumumkan persiapan gelombang ke-63 dari Operasi True Promise 4. Sejauh ini, angkatan bersenjata Iran mengklaim telah melancarkan 84 gelombang serangan terhadap aset-aset AS dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah komandan militer pada 28 Februari lalu.

Eskalasi Meningkat di Tengah Upaya Diplomasi

Di tengah upaya Presiden AS Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri konflik, eskalasi justru terus meningkat. Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh Presiden AS, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.

Pihak Teheran dilaporkan sedang mempertimbangkan proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan, yang dikabarkan mencakup tuntutan berat seperti pembongkaran program nuklir dan rudal Iran, serta penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi. Konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.