Patrolmedia, Arad – Pemerintah Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi minyak dunia.
Dilansir AP, Senin (23/3/2026), kebijakan ini diterapkan merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berniat menyerang pembangkit listrik Iran.
Teheran menegaskan Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya jika AS berani bertindak.
Sementara, Trump sendiri menetapkan batas waktu 48 jam bagi Iran untuk memastikan selat itu tetap terbuka.
”Jika Iran tidak membuka selat itu, AS akan menghancurkan berbagai pembangkit listriknya, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu!” gertak Trump.
Kondisi di internal Israel tak kalah panas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengunjungi komunitas di selatan yang berdekatan dengan lokasi penelitian nuklir rahasia.
Wilayah itu baru saja dihantam rudal Iran pada Sabtu malam yang melukai puluhan orang.
”Ini adalah sebuah keajaiban tidak ada yang tewas,” kata Netanyahu.
Meski digempur, Netanyahu percaya diri Israel dan AS masih berada di jalur yang tepat untuk memenangkan perang.
Ia menegaskan tujuan utama mereka adalah melemahkan program nuklir dan rudal Iran, serta memutus dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata.
Dampak perang ini telah merembet ke sektor ekonomi global. Penutupan praktis Selat Hormuz berimbas tersendatnya pasokan minyak dunia.
Perlu diketahui, seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memperingatkan jika infrastruktur Iran disentuh, maka fasilitas energi dan desalinasi (pengolahan air) di seluruh wilayah Timur Tengah akan menjadi target sah untuk dihancurkan secara permanen.
Serangan udara Iran ke Gurun Negev sebagai aksi balas dendam lantaran situs pengayaan nuklir Natanz milik Iran dibom Israel.
Qalibaf menyebut keberhasilan rudal Iran menembus wilayah Dimona yang dijaga ketat adalah tanda babak baru pertempuran.
Di sisi lain, badan pengawas nuklir PBB berdalih saat ini belum ada laporan kerusakan pada pusat nuklir Israel maupun tingkat radiasi yang abnormal.
Data terbaru menunjukkan dampak kemanusiaan yang mengerikan dari konflik ini:
Korban tewas di Iran: Melampaui 1.500 jiwa.
Korban tewas di Israel: 15 orang akibat serangan Iran.
Korban di Lebanon: Lebih dari 1.000 orang tewas dan 1 juta orang mengungsi akibat serangan Israel.
Krisis Pengungsi: Penghancuran jembatan-jembatan di Sungai Litani oleh Israel membuat warga Lebanon selatan semakin terisolasi.
Situasi kian rumit setelah Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan udara di Israel utara.
Sementara, militer Israel menyelidiki apakah kematian seorang petani senior, Ofer “Poshko” Moskovitz (61), disebabkan oleh roket musuh atau justru salah tembak (friendly fire) dari tentara Israel sendiri.
(Kml/Ft)






















