Patrolmedia, Washington – Fakta baru terungkap, 6 tentara AS tewas di Kuwait akibat serangan drone Iran pada Minggu lalu waktu setempat.
Lokasi operasi yang menjadi sasaran ternyata berada di tengah pelabuhan sipil yang padat, jauh dari pangkalan militer utama dan disebut minim pertahanan.
Analisis citra satelit dan keterangan pejabat AS, pusat operasi logistik itu terletak di jantung Pelabuhan Shuaiba.
Lokasi ini merupakan kawasan industri aktif di selatan Kota Kuwait dikelilingi kilang minyak dan pembangkit listrik, bukan di dalam pangkalan militer yang dijaga ketat.
Joey Amor, suami dari salah satu korban tewas, Sersan Satu Nicole Amor (39), membeber kondisi miris di lokasi kejadian.
Ia menyebut istrinya baru saja dipindahkan ke bangunan mirip kontainer pengiriman itu seminggu sebelum serangan terjadi.
“Mereka berpencar karena takut pangkalan utama akan diserang. Mereka merasa lebih aman dalam kelompok-kelompok kecil di tempat terpisah,” kata Joey seperti dilansir Associated Press, Rabu (4/3/2026).
Ironisnya, bangunan yang ditempati unit logistik asal Iowa tersebut dilaporkan tak punya sistem pertahanan udara memadai saat serangan drone Iran menghantam.
Fakta-fakta Lokasi Serangan:
Lokasi: Pelabuhan Shuaiba, Kuwait (Kawasan industri dan kilang minyak).
Jarak dari Pangkalan: Berjarak sekitar 10 mil (16 km) dari Camp Arifjan (Pangkalan utama AD AS).
Kondisi Bangunan: Berupa kompleks bangunan bergaya kontainer pengiriman.
Dampak: Citra satelit menunjukkan bangunan utama hancur total dengan kepulan asap hitam.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi proyektil Iran berhasil menembus pertahanan udara di “pusat operasi taktis” tersebut.
Sementara pihak Pentagon mencoba meredam kritik terkait celah keamanan ini.
Jubir Pentagon, Sean Parnell, mengklaim fasilitas tersebut sebenarnya telah diperkuat dengan dinding setinggi 6 kaki (sekitar 1,8 meter).
“Militer AS memiliki payung pertahanan udara paling luas di dunia di Timur Tengah saat ini,” tegas Parnell di akun medsosnya.
Meski begitu, Pentagon bungkam saat ditanya bagaimana tembok setinggi 1,8 meter bisa melindungi personel dari serangan drone yang datang dari udara.
Kapten Tim Hawkins dari Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menolak berkomentar lebih jauh karena insiden ini masih dalam tahap penyelidikan.
Presiden Donald Trump sendiri telah memperingatkan ketegangan dengan Iran kemungkinan besar masih akan memakan lebih banyak korban dari pihak Amerika.
(Kml/Ft)






















