Patrolmedia, Gaza – Kelompok pejuang Palestina, Hamas ultimatum Israel atas rentetan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza yang bakal memicu konsekuensi yang sangat serius.
Dilansir Anadolu, Senin (2/2/2026), pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Khalil al-Hayya, mengaku telah menghubungi pihak mediator dan komunitas internasional.
Langkah ini diambil setelah tentara Israel dilaporkan membunuh 37 warga Palestina hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
Al-Hayya mengecam keras serangan harian Israel yang ia sebut sebagai “kejahatan dan pembantaian” dengan dalih palsu.
Ia menegaskan, nasib gencatan senjata kini berada di tangan dunia internasional.
“Komitmen Hamas terhadap gencatan senjata sangat bergantung pada kemampuan dunia internasional untuk memaksa Israel memenuhi kewajibannya,” tegas Al-Hayya.
Hamas juga menuding Negeri Zionis sengaja menghambat penyelesaian krisis kemanusiaan di Rafah, Gaza Selatan.
Banyak warga Palestina dilaporkan terjebak di dalam terowongan pasca-gencatan senjata 10 Oktober 2025 lalu.
Israel bersikeras menolak izin keluar bagi warga tersebut dengan klaim sebagian dari mereka adalah anggota Brigade Al-Qassam.
Masalah ini tetap buntu meskipun Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan fase kedua rencana damai pada Januari 2026.
Data dari Komite Tindak Lanjut Pasukan Nasional dan Islam Palestina menunjukkan fakta mengerikan.
Serangan Israel justru melonjak tajam sejak pertengahan Januari 2026:
- Korban Jiwa: 71 warga Gaza tewas (periode 17-31 Januari 2026).
- Korban Luka: 140 orang, mayoritas mengalami luka serius.
- Total Serangan: 96 kali serangan, termasuk 61 serangan langsung ke sipil.
- Kerusakan: 17 rumah warga hancur lebur.
Puncak serangan terjadi pada Jumat (30/1) dini hari. Militer Israel menyasar bangunan tempat tinggal, pos polisi, hingga tempat pengungsian yang menewaskan banyak wanita dan anak-anak.
Hamas menilai eskalasi militer ini adalah upaya nyata Israel untuk menyabotase perdamaian. Mereka mendesak Amerika Serikat dan para mediator untuk segera menekan Israel.
Pihak Palestina memperingatkan, jika agresi tidak segera dihentikan, maka seluruh upaya menuju fase kedua gencatan senjata akan terhenti total.
(Iwn/EN)






















