Santo Stefanus: Sang Martir Cinta Kasih di Tengah Penderitaan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Baru saja kita merayakan sukacita besar kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat dan Raja Damai, Firman yang telah menjadi manusia dan berdiam di antara kita. Namun, hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan sebuah peristiwa yang berbeda namun tak kalah penting: kemartiran Diakon Stefanus. Kisah Stefanus memberikan perspektif mendalam tentang makna iman yang sesungguhnya, terutama ketika diuji oleh penderitaan dan penganiayaan.
Stefanus, yang dipilih sebagai salah satu dari tujuh diakon, memiliki tugas mulia dalam pelayanan Gereja, yaitu diakonia. Fokus utamanya adalah pada karya sosial, khususnya melayani para janda dan kaum miskin. Kitab Suci menggambarkan Stefanus sebagai pribadi yang penuh dengan karunia dan kuasa Roh Kudus, yang mampu melakukan mukjizat dan tanda-tanda ajaib demi kebaikan dan keselamatan banyak orang.
Namun, karunia dan hikmatnya ini justru menimbulkan ketidaknyamanan dan kecemburuan bagi sebagian orang. Ketidakmampuan mereka untuk membantah kebijaksanaannya yang berasal dari Tuhan membuat mereka geram. Para anggota Mahkamah Agama merasa tertusuk hati, tidak tahan, dan akhirnya menyeret Stefanus keluar kota untuk dilempari batu hingga tewas.
Dalam momen-momen terakhir hidupnya yang penuh penderitaan, Stefanus menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Doanya yang terucap, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku,” mencerminkan kedekatan dan penyerahan totalnya kepada Tuhan. Ia dibunuh bukan karena kesalahan, melainkan karena imannya yang teguh kepada Sang Sabda yang telah menjadi manusia. Senjata utamanya dalam menghadapi penganiayaan yang keji ini adalah cinta yang begitu mendalam kepada Tuhan. Cinta inilah yang mendorongnya untuk memanjatkan doa pengampunan bagi para penganiayanya, “Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan kepada mereka.”
Warisan Nilai Kristiani dari Santo Stefanus
Santo Stefanus telah mewariskan kepada kita tiga nilai hidup Kristiani yang sangat berharga, yang relevan bagi kita di masa kini:
-
Iman yang Teguh: Stefanus menunjukkan kedekatan yang luar biasa dengan Tuhan yang diimaninya. Tuhan menganugerahkan rahmat dan kuasa yang berlimpah kepadanya, terbukti dari banyaknya mukjizat yang terjadi melaluinya. Kita pun dipanggil untuk memiliki iman yang teguh kepada Tuhan, percaya bahwa Ia senantiasa memberikan berkat melimpah dalam hidup kita, bahkan di tengah kesulitan.
-
Keberanian Membela Kebenaran: Stefanus tidak gentar menghadapi siapapun, bahkan dalam situasi yang paling genting sekalipun. Ia dengan gagah berani membela kebenaran iman akan Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia. Kita pun diajak untuk tidak malu bersaksi tentang Tuhan, terutama dalam menyambut kelahiran-Nya di Betlehem. Ketika kita menghadapi ejekan, olok-olok, atau tantangan karena mengakui Yesus, kita tidak boleh putus asa.
-
Menghargai Kehidupan: Stefanus adalah korban kekerasan dan penganiayaan. Kisahnya mengingatkan kita akan pentingnya menghargai harkat dan martabat sesama, serta menjunjung tinggi nilai kehidupan setiap individu. Kita semua mendambakan kedamaian dan kerukunan, dan itu dimulai dari penghargaan terhadap kehidupan orang lain.
Semoga semangat perayaan Natal ini dapat meningkatkan iman kita kepada Tuhan, memberikan keberanian untuk membela kebenaran, dan mendorong kita untuk senantiasa menjunjung tinggi kehidupan sesama.
Konsekuensi Menjadi Murid Kristus
Menjadi murid Kristus bukanlah jalan yang mudah. Yesus sendiri telah menegaskan bahwa jalan kemuridan mensyaratkan penyangkalan diri dan pemanggulan salib setiap hari. Kisah Stefanus adalah bukti nyata dari konsekuensi kemuridan yang mungkin dihadapi, yaitu penolakan dan bahkan kematian. Namun, di balik risiko tersebut, terdapat janji kehidupan kekal bersama Kristus.
Doa Penutup
Ya Allah Bapa, sumber keselamatan kami, kami mengucap syukur kepada-Mu atas kerahiman yang telah Kau limpahkan kepada kami. Engkau telah menyelamatkan kami melalui kelahiran Putera-Mu terkasih, dan kini Engkau menggembirakan kami dengan pesta Santo Stefanus, martir-Mu di Surga. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta Natal. Natal kita bersama. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana pun berada. Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.






















