Berkah Rewanda: Tradisi Sesaji Warga Gua Kreo

Panbil Mall

Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo: Perayaan Syukur dan Pelestarian Warisan Leluhur

Objek wisata Gua Kreo, yang terletak di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, menjadi saksi bisu perayaan tradisi tahunan yang kental akan nilai budaya dan spiritualitas, yaitu Sesaji Rewanda. Pada hari Sabtu, kawasan ini dipadati oleh ribuan warga yang antusias menyaksikan dan mengikuti rangkaian acara yang telah menjadi ikon daerah tersebut.

Sejak pagi buta, masyarakat telah berbondong-bondong memadati area Gua Kreo. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan kirab budaya yang memukau, tetapi juga untuk “ngalap” berkah dari gunungan hasil bumi dan sega kethek, hidangan khas yang menjadi primadona dalam tradisi ini. Suasana meriah terasa di sepanjang rute kirab, membentang dari permukiman warga hingga menuju Gua Kreo.

Ragam Gunungan yang Diarak

Kirab Sesaji Rewanda menampilkan berbagai macam gunungan yang diarak dengan penuh semangat. Tumpukan hasil bumi yang melimpah, mulai dari aneka buah-buahan segar, kupat-lepet yang melambangkan kebersamaan, nasi kuning yang identik dengan perayaan, hingga palawija yang merupakan hasil pertanian, semuanya tersaji dalam bentuk gunungan yang megah. Namun, yang paling menarik perhatian dan menjadi daya tarik utama adalah gunungan sega kethek.

Warga yang memadati lokasi tampak begitu antusias menanti momen pembagian sega kethek. Tak jarang, mereka rela berdesakan demi mendapatkan satu bungkus hidangan sederhana namun sarat makna ini.

Yunita (29), seorang warga Semarang Utara yang kini berdomisili di Ngijo, Gunungpati, mengaku telah mengikuti tradisi ini untuk kedua kalinya. Ia menceritakan pengalamannya menikmati sega kethek, “Rasanya enak. Isinya nasi, sayur jantung pisang, dan peyek ikan asin,” ujarnya sembari menunjukkan bungkusan sega kethek yang berhasil didapatkannya. Yunita beruntung mendapatkan satu bungkus yang cukup untuk dinikmati bersama anak dan dua saudaranya. Meskipun harus berbagi, ia mengaku senang dapat menjadi bagian dari tradisi yang penuh makna ini.

“Untuk ngalap berkah,” ungkap Yunita, menambahkan harapannya, “Mudah-mudahan usahaku tambah lancar, terus kehidupanku tambah makmur.”

Makna Mendalam di Balik Sesaji Rewanda

Ketua Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menjelaskan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merupakan wujud rasa syukur mendalam dari masyarakat atas berbagai anugerah yang telah diterima, mulai dari kesehatan yang prima hingga kelancaran dalam mencari rezeki. Lebih dari itu, tradisi ini juga merupakan upaya penting untuk melestarikan warisan leluhur yang diyakini memiliki kaitan erat dengan perjalanan spiritual Sunan Kalijaga.

“Sesaji Rewanda ini dimaknai sebagai rasa syukur warga karena sudah dipenuhi pahala, kenikmatan, anugerah, kelancaran rezeki, kesehatan, dan juga kita nguri-nguri atau memetri leluhur,” tutur Saiful.

Legenda Gua Kreo dan Keterkaitannya dengan Sunan Kalijaga

Dalam legenda setempat yang diwariskan turun-temurun, kawasan Gua Kreo memiliki cerita yang unik dan menarik. Dikatakan bahwa tempat ini berkaitan erat dengan kisah perjalanan Sunan Kalijaga saat beliau tengah mencari kayu jati berkualitas untuk dijadikan saka guru (pilar utama) Masjid Agung Demak.

Pada masa itu, Sunan Kalijaga dipercaya dibantu oleh kawanan kera yang hidup di sekitar gua. Kera-kera tersebut diyakini membantu sang wali dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi, terutama saat kayu jati yang dibawanya tersangkut di aliran sungai. Hingga kini, masyarakat setempat menjaga keberadaan kera di kawasan Gua Kreo sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan cerita dan filosofi yang terkandung dalam tradisi ini.

Sega Kethek: Simbol Sedekah dan Kebersamaan

Salah satu daya tarik utama yang tak bisa dilewatkan dalam tradisi Sesaji Rewanda adalah gunungan nasi kethek. Hidangan sederhana yang terdiri dari nasi putih, olahan daun singkong dan daun pepaya, serta lauk pendamping seperti tahu, tempe, dan telur ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Nasi kethek menjadi simbol dari sedekah, berbagi kepada sesama, dan mempererat rasa kebersamaan.

Penyebutan “kethek” yang berarti monyet juga memiliki kaitan erat dengan filosofi gotong royong dan keberadaan kera di kawasan Gua Kreo. Abdul Karim, Ketua RW 03 Kandri, menjelaskan lebih lanjut, “Nasi kethek itu adalah untuk sedekah dari warga, berbagi kepada sesama, saudara-saudara yang ikut di acara Sesaji Rewanda karena kita berbaginya tidak hanya dengan manusia, tetapi dengan hewan juga dengan ada gunung-gunungan palawija untuk hewan dan yang dimakan untuk sedekah itu hanya nama, sego kethek.”

Dalam kegiatan tersebut, diperkirakan sekitar 1.000 bungkus sega kethek dibagikan kepada warga. Proses pembagian dilakukan tepat setelah upacara pemotongan tumpeng selesai. Begitu sesi pembagian dibuka, antusiasme warga terlihat jelas saat mereka menyerbu gunungan nasi tersebut.

Uniknya, momen ini tidak hanya diramaikan oleh manusia. Kera-kera yang hidup di sekitar Gua Kreo juga turut serta, dengan sigap mengambil nasi yang terjatuh dari gunungan.

Air Tujuh Mata Air: Berkah dan Doa

Selain sega kethek, air dari tujuh sumber mata air yang telah didoakan secara khusus juga menjadi incaran warga. Banyak warga yang antre secara bergantian untuk mengambil air tersebut. Mereka membasuh muka dengan air mata air sembari memanjatkan doa, atau memasukkannya ke dalam botol untuk dibawa pulang sebagai berkah.

Rangkaian Acara yang Mendukung

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, menambahkan bahwa rangkaian tradisi Sesaji Rewanda telah dimulai sejak Jumat (27/3/2026) malam, diawali dengan pertunjukan seni kolosal bertajuk “Mahakarya Gua Kreo”.

“Pertunjukan legenda Gua Kreo yang dimainkan secara kolosal. Ada 150 lebih penari dan juga pemusik yang ikut meramaikan pementasan mahakarya,” ujar Indriyasari, yang akrab disapa Iin.

Iin juga menyoroti keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam acara ini, tidak hanya dari kalangan pelaku seni, tetapi juga masyarakat luas dari wilayah Kecamatan Gunungpati. Menurutnya, tradisi ini merupakan wujud nyata dari upaya pelestarian budaya yang kaya, sekaligus mencerminkan nilai gotong royong yang masih hidup subur di masyarakat.

“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita sudah diberikan nikmat hidup yang luar biasa. Demikian juga bagaimana manusia, alam, dan makhluk hidup lain bisa berdampingan,” pungkasnya, menegaskan kembali esensi dari perayaan Sesaji Rewanda.