Daerah  

Fazrul Selamat dari Longsor Aceh Tengah: 30 Menit Sebelum Maut Merata

Panbil Mall

Longsor Dahsyat Landa Aceh Tengah: 12 Rumah Hancur, Kisah Selamat di Ujung Maut

Aceh Tengah – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Tengah selama berhari-hari akhirnya memicu bencana alam yang mengerikan. Longsor besar melanda Desa Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, pada Rabu malam, 26 November 2025, sekitar pukul 22.00 WIB. Peristiwa tragis ini menyebabkan sedikitnya 12 rumah warga rusak parah hingga rata dengan tanah, meninggalkan kepiluan mendalam bagi para korban.

Di tengah kehancuran, muncul kisah penyelamatan yang menyentuh hati. Fazrul Fala dan istrinya adalah dua di antara warga yang nyaris menjadi korban jiwa. Berkat peringatan dari seorang tetangga dan insting yang kuat, mereka berhasil menyelamatkan diri hanya sekitar 30 menit sebelum longsor dahsyat meratakan kediaman mereka.

Ratusan Meter Kubik Tanah Bergerak

Fenomena alam yang terjadi di Desa Kayu Kul ini merupakan akibat langsung dari curah hujan ekstrem yang telah berlangsung intensif selama beberapa hari terakhir. Tanah yang jenuh air kehilangan daya tahannya, memicu pergerakan ratusan meter kubik material tanah dan bebatuan menuruni lereng.

Akibatnya, 12 unit rumah warga yang berdiri di jalur longsoran hancur lebur. Material bangunan, perabotan, dan kenangan berharga terkubur di bawah timbunan tanah, meninggalkan puing-puing yang menjadi saksi bisu keganasan alam. Tim penyelamat dan relawan segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan pendataan korban, meskipun medan yang sulit dan kondisi cuaca yang masih berpotensi buruk menjadi tantangan tersendiri.

Detik-Detik Menegangkan Menjelang Bencana

Fazrul Fala, salah seorang warga yang selamat, menceritakan pengalamannya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menyelamatkan dirinya dan sang istri dari ancaman maut.

“Alhamdulillah, saya dan istri masih diberi keselamatan setelah bencana longsor yang meratakan rumah saya,” ujar Fazrul dengan suara bergetar saat ditemui.

Menurut Fazrul, pada malam kejadian, ia dan istrinya sebenarnya berencana untuk tetap bermalam di rumah. Meskipun kondisi cuaca yang tidak menentu sempat menimbulkan kekhawatiran, namun belum terlintas dalam benak mereka bahwa bencana besar akan segera terjadi.

Peringatan Sang Tetangga yang Menyelamatkan Nyawa

Kehidupan Fazrul dan istrinya berubah seketika ketika seorang tetangga mereka, yang akrab disapa Anto, datang mengetuk pintu rumah. Anto memberikan peringatan mendesak agar mereka segera mengungsi. Ia menyampaikan bahwa kondisi tanah di sekitar permukiman sudah sangat tidak stabil dan berpotensi membahayakan keselamatan warga.

“Saat itu tetangga saya, Bang Anto, datang dan bilang, ‘Udah dek, ngungsi aja dulu. Sekarang belum stabil di sini.’ Alhamdulillah hati saya langsung tergerak,” kenang Fazrul.

Tanpa pikir panjang, Fazrul dan istrinya segera bergegas meninggalkan rumah mereka menuju kediaman kakaknya yang berlokasi di area yang dianggap lebih aman. Mereka meninggalkan rumah sekitar pukul 21.30 WIB, hanya setengah jam sebelum longsor besar menerjang.

“Kami pergi sekitar jam setengah sepuluh malam. Kejadiannya jam sepuluh. Kalau sempat saya masih ada di situ, saya tidak tahu bagaimana jadinya,” ungkapnya lirih, menyadari betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati.

Ketika mendengar kabar bahwa rumahnya telah rata dengan tanah, Fazrul mengaku merasakan campuran perasaan sedih dan syok. Namun, ia segera menguatkan diri dengan keyakinan bahwa keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada harta benda yang bisa dicari kembali.

Upaya Penanganan dan Bantuan

Pascabencana, pemerintah daerah bersama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan, segera bergerak cepat untuk melakukan penanganan darurat. Prioritas utama adalah memastikan tidak ada lagi korban jiwa, mengevakuasi warga yang terdampak, serta mendirikan posko pengungsian dan dapur umum.

Bantuan logistik berupa makanan, pakaian, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya mulai disalurkan kepada para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal. Pendataan kerusakan rumah dan aset warga juga dilakukan untuk menjadi dasar pemberian bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi di masa mendatang.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk tetap waspada dan selalu memantau informasi cuaca serta peringatan dini dari pihak terkait. Kesadaran akan potensi bencana dan kesiapsiagaan diri menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak dari kejadian serupa di masa mendatang. Kisah Fazrul Fala menjadi pengingat pentingnya mendengarkan peringatan dan bertindak cepat saat menghadapi ancaman bencana alam.