Nobi: Perjuangan Dini Hari Pedagang Durian Pangkalpinang

Panbil Mall

Musim Durian Bangka: Antara Rezeki Nomplok dan Tantangan Alam

Menjelang akhir tahun 2025, aroma khas durian kembali menyeruak di pasar-pasar Bangka Belitung. Musim durian bukan hanya sekadar datangnya buah musiman, tetapi juga menjadi momen yang dinanti-nantikan, membawa gelombang aktivitas ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Dari durian lokal kampung yang legendaris hingga varietas unggulan hasil perkebunan yang terkelola, pasar menjadi lebih hidup dan ramai.

Nobi, seorang pedagang durian di Pasar Pagi Taman Sari, Pangkalpinang, telah merasakan denyut nadi musim durian selama lebih dari 15 tahun. Pria berusia 45 tahun ini, yang kesehariannya berdagang sayuran, mengubah lapaknya secara total saat musim durian tiba. Baginya, durian bukan sekadar komoditas, melainkan titipan rezeki yang harus diperlakukan dengan penuh hormat. Sore itu, lapaknya dipenuhi dengan tumpukan durian berduri tajam, disusun rapi, seolah permata yang berharga. Suara riuh pedagang, deru kendaraan yang melintas perlahan, dan aroma durian yang menguar di udara menciptakan suasana khas yang hanya bisa dirasakan saat musim buah ini.

“Kalau sayur, kadang untung, kadang rugi. Tapi durian tetap dicari orang,” ujar Nobi sambil tersenyum, menunjukkan kepiawaiannya dalam memilih dan menata buah-buah tersebut. Durian yang ia jajakan berasal dari kebun langganan di Desa Nangka, Bangka Selatan. Ukurannya bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan pembeli, mulai dari buah besar untuk dinikmati bersama keluarga hingga ukuran sedang yang disukai ibu-ibu.

Perjuangan Dini Hari untuk Durian Berkualitas

Di balik tumpukan durian yang rapi di lapak berukuran tiga meter itu, tersimpan cerita perjuangan panjang Nobi dan rekannya, Zaki. Sekitar 130 buah durian yang tersaji merupakan hasil perjalanan mereka yang dimulai sejak dini hari. “Kalau tidak berangkat subuh, kebagian buah bagus itu susah,” ungkap Nobi, menjelaskan rutinitasnya yang harus berangkat sekitar pukul 02.00 WIB. Durian-durian tersebut terlebih dahulu disimpan di rumahnya di kawasan Tuatunu sebelum diangkut ke pasar menggunakan sepeda motor dengan keranjang besar. Saat akhir pekan tiba dan permintaan melonjak drastis, mereka bahkan menyewa mobil pikap milik teman. “Kalau hari biasa ambil 100–150 buah. Akhir pekan bisa 250 sampai 300. Kadang masih kurang,” tambahnya.

Nobi dan Zaki bukan sekadar pedagang biasa. Mereka berperan sebagai jembatan langsung antara petani durian di pelosok Bangka dengan konsumen di perkotaan. Informasi mengenai kebun durian mereka dapatkan dari berbagai sumber, mulai dari sesama pedagang hingga media sosial. Setibanya di kebun, proses seleksi dilakukan dengan sangat cermat. Mereka memperhatikan detail pohon, buah, bentuk duri, ukuran, hingga aroma, sesuai dengan pemahaman mendalam mereka tentang selera pasar yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. “Pembeli sekarang sudah tahu maunya apa,” ujar Nobi. Kualitas dan harga menjadi faktor penting dalam menjaga kerja sama yang harmonis dengan para petani. Hubungan kemitraan ini bahkan ada yang sudah terjalin selama empat tahun, bahkan lebih dari 10 tahun.

Kepercayaan dan Kemitraan yang Erat

Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam bisnis durian ini. Zaki merasakan manfaat besar dari kemitraan yang ia bangun. Demi menjaga kualitas, mereka rela menjelajahi hampir seluruh Pulau Bangka, terutama wilayah Bangka Tengah hingga Bangka Selatan, bahkan masuk ke kampung yang tidak memiliki sinyal hingga ke hutan yang jarang dijamah manusia. “Kami anggap petani itu mitra. Ada yang terbantu karena kami datang langsung ke kebun, mereka tidak bingung menjual hasil panen,” ucap Zaki.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika menemukan petani yang menjual durian berkualitas sangat baik hanya seharga Rp5.000 per buah. Buah tersebut memiliki isi tebal, rasa enak, dan matang alami. Merasa sayang jika dihargai serendah itu, Zaki dan Nobi memberanikan diri membeli dengan harga yang lebih tinggi. Hasilnya, durian tersebut laris manis di pasar, dan petani tersebut merasa sangat berterima kasih karena duriannya dihargai layak untuk pertama kalinya.

Modal Besar di Balik Tumpukan Durian

Di balik kemudahan yang terlihat, tersimpan modal yang tidak sedikit. Tahun ini, harga beli durian dipukul rata Rp20.000 per buah karena sistem borongan dari pemilik kebun. “Sekali ambil bisa habis Rp2 juta sampai Rp6 juta,” kata Nobi. Meskipun demikian, pengalaman panjang membuatnya paham betul mengenai risiko bisnis ini. Dalam sehari, keuntungan bersih bisa berkisar antara Rp400.000 hingga Rp2.000.000, tergantung pada ramai atau sepinya pembeli.

Nobi mengakui bahwa durian dari kebun sendiri merupakan berkah terbesar. Tanpa modal pembelian buah, keuntungan bisa berlipat ganda. “Tinggal panen, bawa ke pasar, jual. Itu rezeki besar,” ujarnya. Sayangnya, durian kampung sangat bergantung pada cuaca. Tahun ini, kebun pribadinya tidak berbuah lebat, sehingga ia kembali bergantung pada kebun langganan. Meskipun musim durian hanya berlangsung selama 20 hingga 35 hari, momen ini menjadi penopang ekonomi keluarga Nobi. “Bisa buat nutup kebutuhan rumah, jajan anak-anak,” tuturnya. Bagi Nobi, selama durian masih tumbuh di kebun Bangka dan tetap digemari masyarakat, ia akan setia berdiri di lapaknya. “Selama masih ada musim durian, kami tetap jualan. Ini sudah jadi jalan hidup,” tutupnya.

Durian Bangka: Potensi Ekonomi dan Tantangan Cuaca

Edo Maryadi, Ketua Tim Kerja Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjelaskan bahwa durian Bangka Belitung memiliki keragaman jenis yang tumbuh dengan baik. Mulai dari durian alam di kampung-kampung hingga durian unggulan hasil seleksi dan pembinaan pemerintah. Ia menyebutkan beberapa varietas yang sudah dikenal luas, seperti Cumasi dan Super Tembaga. Wilayah seperti Mentok, Air Mesu, Mangkol, hingga Bangka Tengah dikenal sebagai sentra durian lokal berkualitas tinggi.

Pengembangan durian memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Saat musim durian tiba, perputaran uang dari desa hingga kota meningkat signifikan. “Musim durian itu ekonomi bergerak. Petani untung, pedagang untung, aktivitas jual beli meningkat,” kata Edo. Meskipun terdapat risiko buah busuk atau mentah, secara umum petani dan pedagang tetap memperoleh keuntungan, menunjukkan tingginya nilai ekonomi durian.

Berdasarkan data statistik DPKP Babel, pada tahun 2024 luas tanam durian tercatat mencapai 2.487,20 hektare dengan luas panen 841,74 hektare, menghasilkan total produksi 7.061,90 ton. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2023, yang mencatatkan produksi 5.807,85 ton. Kenaikan produksi ini menjadi indikator meningkatnya intensitas panen durian lokal di kebun-kebun rakyat dan menegaskan peran durian sebagai penopang ekonomi masyarakat, khususnya petani dan pedagang musiman.

Namun, tantangan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor penentu utama kualitas dan kuantitas produksi durian. Idealnya, tanaman durian membutuhkan periode panas sekitar 15 hingga 18 hari tanpa hujan agar bunga dan buah dapat berkembang optimal. “Kalau panasnya cukup, kualitas duriannya bagus. Tapi tahun ini cuacanya ekstrem, hujan terus, sehingga produksi banyak menurun,” jelas Edo. Akibatnya, sejumlah petani mengalami gagal panen atau hasil panen yang tidak maksimal. Meskipun demikian, sebagian petani mulai beradaptasi dengan pola perawatan dan pemupukan yang lebih terencana.

Pemerintah daerah telah berupaya melakukan pembinaan dan pelepasan varietas durian unggulan Bangka Belitung ke tingkat nasional sejak 2012. Varietas seperti Estik Labuno atau Super Tembaga disebut-sebut memiliki potensi besar untuk menjadi ikon durian Indonesia, setara dengan Musang King dari Malaysia atau Monthong dari Thailand. Selain itu, DPKP Bangka Belitung juga rutin melaksanakan bimbingan teknis melalui program Kampung Durian dan memfasilitasi kontes durian untuk memotivasi petani menjaga kualitas. Edo berharap ke depan, durian Bangka Belitung tidak hanya dikenal sebagai buah musiman, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan. “Kalau dikelola dengan baik, durian bisa menjadi sumber ekonomi utama masyarakat. Potensinya sangat besar,” tutup Edo.