Tragedi Brown: 2 Tewas, 8 Luka dalam Penembakan Kampus

Tragedi di Universitas Brown: Penembakan Massal Renggut Nyawa, Presiden Trump Beri Perintah

Sebuah insiden mengerikan mengguncang Universitas Brown di Rhode Island, Amerika Serikat, pada Sabtu sore, 14 Desember 2025. Penembakan massal yang terjadi di kampus tersebut dilaporkan merenggut nyawa dua orang dan menyebabkan delapan lainnya mengalami luka serius. Pihak kepolisian hingga kini masih memburu pelaku yang diduga mengenakan pakaian serba hitam. Peristiwa tragis ini sontak menarik perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang telah memberikan instruksi kepada kepolisian dan FBI untuk segera menyelidiki kasus ini.

Penembakan ini terjadi di tengah situasi yang seharusnya penuh ketenangan, yaitu saat para mahasiswa tengah fokus menjalani ujian akhir semester. Suasana akademik yang khidmat seketika berubah menjadi kepanikan dan ketakutan yang mendalam.

Kronologi Kejadian dan Respons Cepat Aparat

Menurut laporan, insiden berawal ketika pihak kepolisian menerima panggilan darurat pada pukul 16.05 waktu setempat. Panggilan tersebut mengindikasikan adanya insiden penembakan aktif di Gedung Teknik dan Fisika Universitas Brown. Pesan darurat yang disebarkan kepada civitas akademika kampus berbunyi, “Ada penembak aktif di dekat Barus dan Holley Engineering. Kunci pintu, matikan telepon dan tetap bersembunyi hingga pemberitahuan lebih lanjut.”

Pihak berwenang masih berusaha mengidentifikasi bagaimana pelaku dapat masuk ke dalam area kampus. Namun, berdasarkan keterangan saksi mata, pelaku terlihat melarikan diri dari lokasi kejadian setelah melakukan aksinya.

Wakil Rektor Universitas Brown, Francis J Doyle III, mengonfirmasi bahwa penembakan terjadi di gedung yang sedang digunakan mahasiswa untuk ujian akhir. “Kami mengetahui bahwa ujian akhir sedang berlangsung di gedung tersebut antara pukul 2 hingga 5 sore,” ujar Doyle III. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa mengerikannya situasi yang dialami para mahasiswa saat itu.

Ciri-Ciri Pelaku dan Upaya Pencarian Intensif

Wakil Kepala Kepolisian Rhode Island, Tim O’Hara, memberikan keterangan terkait ciri-ciri pelaku. Ia menyatakan bahwa pelaku penembakan memiliki ciri-ciri mengenakan pakaian serba hitam. Saat ini, pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Kami menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk menemukan tersangka ini. Jangan datang ke area tersebut,” tegas O’Hara dalam konferensi pers yang digelar Sabtu malam. Meskipun pelaku telah diidentifikasi, polisi mengaku belum memiliki sketsa wajah yang jelas dari tersangka. Upaya pencarian terus dilakukan secara masif dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.

Perhatian Presiden Trump dan Pernyataan Belasungkawa

Insiden penembakan di Universitas Brown ini tidak luput dari perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia dilaporkan telah memberikan arahan langsung kepada kepolisian dan FBI untuk melakukan penyelidikan mendalam terkait peristiwa tersebut.

“Saya telah mendapat penjelasan lengkap mengenai situasi di Universitas Brown,” kata Trump dari Gedung Putih. “Betapa mengerikan kejadian ini, dan yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk korban dan mereka yang terluka parah,” tambahnya.

Presiden Trump juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang tewas maupun mereka yang terluka akibat penembakan brutal ini. “Ini sungguh menyedihkan. Saya hanya bisa mengucapkan duka cita mendalam,” ucapnya. Pernyataan ini menunjukkan respons pemerintah terhadap tragedi yang mengguncang salah satu institusi pendidikan ternama di Amerika Serikat.

Kesaksian Mahasiswa: Ketakutan dan Kebingungan

Seorang mahasiswa doktoral teknik Universitas Brown, Chiangheng Chien, menceritakan pengalamannya saat insiden terjadi. Ia dan tiga rekannya sedang berada di ruang laboratorium ketika menerima pesan teks dari pihak kampus mengenai adanya penembakan.

“Kami langsung mematikan lampu, menutup pintu, dan bersembunyi di bawah meja,” ungkap Chien. Pada saat yang sama, petugas keamanan kampus segera melakukan penguncian pintu ruangan. Setelah kedatangan polisi, Chien dan rekan-rekannya baru diizinkan membuka pintu laboratorium.

“Kami memutuskan untuk membuka pintu dan membiarkan polisi masuk untuk memeriksa kami dan laboratorium, lalu kami diperintahkan untuk segera keluar dari gedung tersebut,” jelas Chien. Setelah berhasil dievakuasi, Chien mengaku belum mengetahui secara pasti kronologi penembakan yang terjadi. Prioritas utamanya saat itu adalah mencari tempat aman, mengingat adanya laporan bahwa pelaku masih berkeliaran di sekitar kampus.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi sekarang dan ke mana saya harus pergi. Mungkin saya akan pergi bersama teman-teman ke rumahnya yang berada di sekitar lokasi kampus,” tuturnya, menggambarkan kebingungan dan ketidakpastian yang dialami para mahasiswa pasca-kejadian. Insiden ini meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan besar bagi komunitas Universitas Brown dan seluruh Amerika Serikat.