
Rismon Sianipar juga menjelaskan isi tulisannya di buku tersebut yang memuat soal uji lintasan stempel dengan menganalisa sebaran intensitas Red Green Blue (RGB) pada ruang Cyan, Magenta, Yellow, dan Key (Black) (CMYK) dan ruang warna Hue, Saturation, Brightness (HSB).
“Disitu dibuktikan tidak ada lintasan stempel diatas dari foto ijazah Joko Widodo, karena kita periksa nilai-nilai numerik yang mereprentasikan setiap pixel dalam sebuah citra digital, itu dihalaman 81” kata Rismon menunjukkan halaman buku terkait uji stempel tersebut.
Kemudian, ia juga memapar soal uji Error Level Analysis, (ELA) yang menguji sebaran dari kompresi disebuah file berformat JPG.
Format JPG itu sebelumnya diupload oleh Dian Sandi Utama yang diklaim asli, justru sebaliknya, menurut Rismon foto ijazah itu tidak asli.
“Oleh karena itu disini kita membandingkan dengan 3 metode yang pertama ELA dengan adaptive Brightness scaling, trus ELA dengan CLAHE (Contrast Limited Adaptive Histogram Equalization),” kata Rismon menjelaskan.
“Jadi disini didapatkan sebaran-sebaran yang sangat dicurigai merupakan tempelan-tempelan secara digital,” lanjutnya.
Pada metode yang ketiga, Rismon menjelaskan dirinya telah menguji dengan Overlapping detection seperti yang kerap ia presentasikan di Televisi.
“Disitu menguji kalau 1 plat untuk 1 periode wisuda yang sama maka dia presize antara reposisi yang buruk dengan watermark logo UGM,” ungkapnya.
“Jadi kami dapatkan, kami bandingkan dengan ijazah dari pronojiwo, itu secara overlapping detection itu tidak identik seperti yang di klaim oleh Dittipidum,” kata Rismon.
Dari ketiga metode tersebut, lanjutnya, membuktikan terjadinya perbedaan antara ijazah Pronojiwo dengan ijazah Jokowi.






















