Sal Priadi: Beban Viral Musisi Milenial

Budaya Viral di Industri Musik: Sebuah Ancaman bagi Kedalaman Artistik

Dunia musik kontemporer tengah dihadapkan pada sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan: obsesi terhadap viralitas sebagai tolok ukur utama kesuksesan sebuah karya. Penyanyi sekaligus penulis lagu ternama, Sal Priadi, menjadi salah satu suara yang vokal menyuarakan keprihatinan ini. Ia melihat banyak musisi kini terjebak dalam pusaran pengejaran angka di platform digital, mengesampingkan nilai artistik dan kedalaman pesan yang seharusnya menjadi inti dari sebuah karya musik.

Sal Priadi mengamati adanya kecenderungan kuat di kalangan penyanyi dan musisi untuk berlomba-lomba meraih jumlah pemutaran (streams), tayangan (views), dan eksposur besar di media sosial. Angka-angka ini, yang seringkali dipengaruhi oleh algoritma dan tren viral seperti FYP (For You Page) di TikTok, seolah menjadi tujuan akhir dalam penciptaan musik.

“Penyanyi selalu mengejar kayak angka streams yang tinggi, views yang tinggi, algoritma, FYP, segala macam sesuatu yang viral,” ungkap Sal Priadi dalam sebuah kesempatan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Fenomena ini, menurut Sal, berpotensi menggeser esensi dari tujuan utama seorang seniman dalam berkarya. Ketika fokus utama tereduksi menjadi pencapaian angka dan popularitas instan, proses kreatif yang seharusnya menjadi wadah penyampaian gagasan, perasaan, dan pesan yang bermakna, justru berisiko kehilangan substansinya.

Menghilangkan Bobot Artistik demi Viralitas

Sal Priadi menekankan bahwa seorang musisi seharusnya memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan ide-ide, emosi, atau pesan yang memiliki bobot dan kedalaman. Namun, kecenderungan saat ini justru mendorong para musisi untuk mengikuti formula-formula yang dianggap mampu mendatangkan viralitas, alih-alih menggali potensi artistik mereka.

“Pengkaryaan yang terjadi akhirnya jadi mengarah ke sana (viral) gitu, dan menghilangkan diri kita sebagai seorang berkarya yang benar-benar harusnya ngomong sesuatu yang punya bobot,” jelasnya.

Hal ini menciptakan siklus di mana karya musik lebih dilihat sebagai produk yang harus “menjual” secara cepat, bukan sebagai medium ekspresi seni yang otentik dan bernilai. Akibatnya, musik yang dihasilkan cenderung dangkal, mudah dilupakan, dan kurang mampu membangun koneksi emosional yang mendalam dengan pendengarnya.

Kecepatan Tren dan Sifat Sementara Popularitas Digital

Lebih lanjut, Sal Priadi menyoroti kecepatan perputaran tren dalam industri musik digital. Lagu yang menjadi viral hari ini, menurutnya, bisa dengan sangat mudah tergantikan oleh rilisan baru hanya dalam hitungan hari atau minggu. Siklus yang cepat ini semakin memperkuat argumennya bahwa popularitas digital yang didasarkan pada viralitas bersifat sementara.

“Dan in the end of the day, tergantikan juga karena semakin banyak, setiap Jumat kita keluar banyak rilis-rilisan lagu gitu. Dan begitu cepat gitu,” kata Sal Priadi, menggambarkan betapa cepatnya sebuah lagu bisa tenggelam dalam lautan rilisan musik baru.

Oleh karena itu, ia mengingatkan para musisi untuk tidak terlalu terpaku pada pencapaian yang sifatnya sementara dan mudah sirna. Fokus pada angka-angka yang fluktuatif dapat mengaburkan pandangan terhadap nilai jangka panjang dari sebuah karya.

Harapan untuk Kejujuran Artistik dan Nilai yang Bertahan

Sal Priadi berharap agar para pelaku industri musik dapat kembali menemukan kenikmatan dalam proses berkarya itu sendiri. Ia mendambakan sebuah era di mana musik dihadirkan dengan kejujuran artistik yang mendalam, lahir dari hati dan pemikiran yang tulus, bukan sekadar demi mengikuti tren atau meraih klik.

Bagi Sal, fenomena budaya viral di industri musik ini seharusnya menjadi pengingat penting bahwa angka streaming maupun status viral bukanlah satu-satunya, apalagi ukuran utama, keberhasilan sebuah karya. Ia meyakini bahwa karya yang memiliki makna mendalam dan mampu berbicara langsung kepada pendengarnya, menyentuh hati dan pikiran mereka, akan memiliki nilai yang jauh lebih bertahan lama dibandingkan popularitas sesaat yang didapat dari viralitas.

Karya yang otentik, yang berani menyampaikan pesan-pesan penting, dan dibangun di atas fondasi artistik yang kuat, memiliki potensi untuk terus relevan dan diapresiasi lintas generasi. Ini adalah tantangan bagi industri musik untuk menyeimbangkan tuntutan pasar digital dengan kebutuhan fundamental akan ekspresi seni yang kaya dan bermakna.

Dampak Budaya Viral pada Kreativitas Musisi

  • Penekanan pada Kuantitas daripada Kualitas: Musisi mungkin terdorong untuk merilis lebih banyak materi dalam waktu singkat untuk memanfaatkan momentum viral, tanpa memberikan waktu yang cukup untuk penyempurnaan artistik.
  • Homogenisasi Musik: Kecenderungan untuk mengikuti formula yang terbukti viral dapat menyebabkan musik menjadi serupa dan kehilangan keragaman.
  • Stres dan Tekanan pada Musisi: Pengejaran viralitas dapat menimbulkan stres dan tekanan yang signifikan pada musisi, yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka.
  • Mengabaikan Pengembangan Bakat Jangka Panjang: Fokus pada kesuksesan instan dapat mengalihkan perhatian dari pengembangan bakat dan keahlian musisi secara berkelanjutan.

Menemukan Keseimbangan di Era Digital

Meskipun viralitas dapat menjadi alat promosi yang efektif, penting bagi musisi dan industri untuk tidak menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan. Beberapa strategi untuk menemukan keseimbangan meliputi:

  • Prioritaskan Pesan dan Makna: Tetapkan tujuan utama karya adalah menyampaikan pesan atau emosi tertentu, terlepas dari potensi viralitasnya.
  • Bangun Komunitas Penggemar yang Loyal: Fokus pada membangun hubungan yang kuat dengan pendengar melalui musik yang autentik dan interaksi yang tulus.
  • Eksplorasi Berbagai Platform: Manfaatkan berbagai platform digital untuk promosi, namun jangan terpaku pada satu algoritma saja.
  • Berkolaborasi dengan Musisi Lain: Bekerja sama dengan musisi lain dapat membuka perspektif baru dan memperluas jangkauan tanpa mengorbankan integritas artistik.
  • Tinjau Ulang Definisi Kesuksesan: Ajak industri untuk mendefinisikan ulang kesuksesan musik, yang tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari dampak budaya, apresiasi artistik, dan umur panjang sebuah karya.