Harga BBM Nonsubsidi Rp 24.150, Antrean Solar Subsidi Mengular di SPBU Sonder Minahasa

Kenaikan Harga BBM di Sulawesi Utara Mulai Berdampak pada Masyarakat

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Sulawesi Utara tampaknya mulai memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari. Pantauan di SPBU 74.956.04 Sonder, Minahasa, Sulawesi Utara, pada Minggu (19/4/2026), menunjukkan antrian kendaraan yang cukup panjang untuk mengisi BBM subsidi jenis solar.

Salah satu yang mencolok adalah kenaikan harga BBM non subsidi jenis Dexlite yang kini mencapai Rp 24.150 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex dijual dengan harga Rp 24.450 per liter. Hal ini membuat banyak warga beralih ke solar subsidi karena selisih harga yang cukup jauh dibandingkan Dexlite.

Puluhan kendaraan tampak mengular hingga beberapa meter dari area SPBU. Didominasi oleh truk dan bus, antrian ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin memperhatikan biaya operasional kendaraan mereka. Lonjakan harga BBM ini disebut-sebut tidak lepas dari dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada penyesuaian harga BBM non subsidi di dalam negeri.

Meski harga BBM non subsidi mengalami kenaikan, BBM subsidi seperti solar masih terpantau normal. Namun, situasi ini justru memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama pengguna kendaraan besar seperti bus dan truk. Kenaikan harga BBM non subsidi ini dinilai menjadi ancaman bagi warga, khususnya mereka yang sebelumnya memilih BBM non subsidi untuk menghindari antrean panjang.

Kini, selain harus menghadapi harga yang melonjak, mereka juga terpaksa beralih ke BBM subsidi dengan konsekuensi antre lebih lama. Salah satu warga, Alex, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang dinilai sangat drastis.

“Jujur saya cukup kaget dengan kenaikan ini, karena sebelumnya masih bisa ditoleransi. Tapi kalau sudah sampai Rp 24 ribu lebih, tentu sangat memberatkan. Mau tidak mau banyak yang akan pindah ke solar subsidi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi ini berpotensi memperparah antrean BBM subsidi ke depan. Menurutnya, kalau terus begini, antrean pasti akan jadi makin panjang. “Ini bisa ganggu aktivitas, apalagi untuk sopir angkutan dan logistik,” tambahnya.

Senada dengan itu, seorang sopir truk mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi berdampak langsung pada biaya operasional. “Kalau pakai Dexlite sudah terlalu mahal, sementara kalau ke solar subsidi harus antre lama. Ini jadi dilema bagi kami di lapangan,” ungkapnya.

Pasalnya, jika kondisi ini terus berlanjut, kata dia, bukan hanya sektor transportasi yang terdampak, tetapi juga distribusi barang yang berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat.