Berita  

Lelah di Pekerjaan? Cegah dengan Prinsip Wasathiyah, Ini Caranya

Fenomena Burnout dan Solusi dari Perspektif Islam

Burnout, atau kelelahan ekstrem secara fisik dan mental, kini menjadi isu yang semakin sering dialami oleh para pekerja urban. Hal ini terjadi karena adanya budaya hustle culture yang cenderung membuat seseorang kehilangan batas tegas antara kehidupan profesional dan personal. Istilah work-life balance pun kini menjadi dambaan setiap pekerja modern. Namun, bagaimana sebenarnya mengurai fenomena global ini dari perspektif yang lebih mendasar, yakni spiritualitas Islam?

Dosen Universitas Raden Mas Said Surakarta, Aufa Rizka Azzumi, S.E., M.A., menjelaskan bahwa jauh sebelum dunia modern menggaungkan istilah work-life balance, Islam telah meletakkan fondasi yang komprehensif untuk mencegah manusia jatuh ke jurang burnout. Menurutnya, burnout ditandai oleh kelelahan fisik dan mental yang ekstrem, disertai penurunan semangat hidup yang drastis.

Dalam kacamata Islam, kondisi ini dapat dicegah dengan menerapkan prinsip wasathiyah, yang berarti jalan tengah atau keseimbangan. “Wasathiyah adalah prinsip fundamental yang menggariskan pentingnya memberikan hak dan perhatian yang proporsional pada setiap aspek kehidupan,” ujar Aufa saat menjadi narasumber dalam siniar Oase di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Empat Dimensi Kehidupan yang Perlu Seimbang

Aufa mengibaratkan kehidupan manusia seperti sebuah sistem makro. Jika salah satu komponen menerima beban yang berlebihan secara terus-menerus, maka seluruh sistem akan kehilangan stabilitas dan efektivitasnya. Untuk menjaga stabilitas sistem kehidupan tersebut, Islam membaginya ke dalam empat dimensi utama yang wajib dipenuhi secara seimbang:

  1. Dimensi Spiritual atau Fondasi Jiwa

    Ibadah bukan sekadar formalitas ritual seperti salat dan puasa. Dimensi ini mencakup zikir, tadabur Al-Qur’an, doa, hingga muhasabah diri. Inilah nutrisi esensial penenang jiwa di tengah badai kehidupan.

  2. Dimensi Fisik atau Tubuh sebagai Amanah

    Islam memandang tubuh sebagai aset yang “dipinjamkan” oleh Allah SWT. Menjaga fisik melalui makanan halal dan bergizi, istirahat yang cukup tanpa sering begadang, serta olahraga teratur adalah kewajiban agar muslim dapat optimal beribadah dan menjadi khalifah di bumi.

  3. Dimensi Intelektual atau Pengembangan Akal

    Manusia dituntut terus mengasah akal pikiran melalui proses belajar, membaca, serta terlibat dalam diskusi-diskusi konstruktif demi memperluas wawasan dan kebijaksanaan.

  4. Dimensi Profesional dan Sosial

    Dunia kerja merupakan arena bagi seorang manusia untuk berkarya, berinovasi, dan menjemput rezeki halal. “Ketika diniatkan untuk menafkahi keluarga, pekerjaan bertransformasi menjadi ibadah,” terangnya.

Lebih dari Sekadar ‘Fifty-Fifty’

Banyak pekerja mengartikan work-life balance secara kaku sebagai pembagian waktu 50:50 antara kantor dan rumah. Namun, Aufa meluruskan bahwa konsep Islam melampaui hitungan jam matematis tersebut. Keseimbangan dalam Islam bertumpu pada niat dan keberkahan.

“Ketika seorang muslim bekerja mencari nafkah dengan cara halal, menjaga kesehatan tubuh, hingga meluangkan waktu bercengkerama dengan keluarga demi menjaga silaturahmi, semua aktivitas duniawi itu bernilai ibadah,” ungkap Aufa. Dunia dan akhirat, lanjutnya, tidak dipandang sebagai dua kutub yang terpisah secara kaku, melainkan menyatu dalam bingkai ketaatan.

Konsep integrasi ini secara tegas termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 77 yang berbunyi:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi…”

“Ayat ini menerangkan petunjuk jelas agar kita memanfaatkan nikmat dan materi di jalan Allah untuk membekali akhirat, namun di saat yang sama, kita dilarang melupakan hak-hak kesenangan duniawi sepanjang tidak melanggar syariat,” jelas Aufa.

Prinsip ini diperkuat oleh hadis riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas mengenai pentingnya memanfaatkan lima momentum sebelum datangnya lima perkara, yakni masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati.

Mengisi Ulang Energi Spiritual

Saat tekanan pekerjaan memuncak, tren masyarakat modern adalah mencari pelarian lewat aktivitas scrolling media sosial tanpa arah atau sekadar bermalas-malasan. Islam menawarkan metode recharge spiritual yang lebih berdampak pada kedamaian batin.

Aufa menyebut ibadah wajib lima waktu sebagai bentuk daily check-in langsung kepada Sang Pencipta. Proses pembersihan diri melalui wudu sebelum salat secara psikologis memberikan efek kesegaran bagi pikiran yang penat.

Selain salat lima waktu, terdapat instrumen penguat batin lainnya. Pertama, menurut Aufa, adalah melaksanakan shalat Tahajud. “Waktu sepertiga malam adalah momentum krusial dan intim bagi manusia untuk mencurahkan segala keluh kesah, beban hidup, dan menemukan ketenangan hakiki,” ucap Aufa.

Kemudian yang kedua adalah dengan mendengarkan dan membaca Al-Qur’an. Aufa menyarankan pekerja yang sedang jenuh untuk sesekali mengganti lantunan musik dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. “Perbanyak zikir sebagai obat mujarab penenang jiwa yang resah,” pungkasnya.