Local  

Potensi Sampah MBG Bandung Capai 40-60 Ton Harian

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Tantangan Pengelolaan Sampah di Kota Bandung

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di Kota Bandung tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi siswa, tetapi juga membawa tantangan baru dalam pengelolaan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto, mengatakan bahwa perlu adanya kesadaran dari para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengelola sampah secara lebih baik.

Pada April lalu, Dinas Lingkungan Hidup melakukan sosialisasi kepada seluruh pengelola SPPG terkait pengelolaan sampah MBG mulai dari dapur hingga sisa makanan di sekolah. Darto menyampaikan bahwa sampah di Kota Bandung sudah sangat banyak setiap harinya, sehingga diharapkan pengelola SPPG tidak menambah beban tersebut.

Saat ini, jumlah SPPG di Kota Bandung diperkirakan lebih dari 200 pengelola. Berdasarkan pemantauan tim Dinas, setiap SPPG rata-rata menghasilkan antara 200-300 kilogram sampah organik per hari. Potensi timbulan sampah organik yang baru dari SPPG mencapai sekitar 40-60 ton setiap hari. Hal ini memerlukan perhatian serius dari pengelola SPPG.

Darto menjelaskan bahwa aturan yang berlaku adalah siapa yang menghasilkan sampah maka dia memiliki kewajiban untuk mengolahnya. Apalagi SPPG dikategorikan sebagai area komersial atau kawasan berpengelola, sehingga dapur MBG harus memiliki kemampuan sendiri dalam menangani masalah sampah.

Secara administratif, hampir semua SPPG memiliki kerja sama dengan pengelola sampah. Namun, dalam lapangan masih ditemukan trash bag yang berisi sampah organik seperti sisa sayuran dan makanan yang kuat sekali diidentifikasi berasal dari SPPG.

Sebagian SPPG mampu mengelola sampahnya dengan baik, tetapi masih ada juga yang terbuang ke tempat pembuangan sementara (TPS). Menurut Darto, pihak SPPG bisa bekerja sama dengan komunitas atau pembudi daya maggot untuk mengelola sampah secara lebih efektif.

Darto juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berbicara dengan KPPG Kota Bandung bahwa jika terbukti tidak mengolah sampah, izin SPPG akan dicabut dan tidak bisa meneruskan program tersebut.

Krisis Sampah di Kota Bandung

Masalah sampah di Kota Bandung saat ini mengalami krisis karena pembatasan jumlah pembuangan ke TPA Sarimukti. Menurut Darto, jatah pembuangan sampah harian Kota Bandung sebanyak 980 ton. Namun, belakangan ini terjadi penumpukan sampah di berbagai tempat. Untuk mengatasi hal tersebut, Sekda Jabar memberikan tambahan 120 ton.

Pengelolaan Sampah di SMAN 18 Bandung

Sementara itu, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 18 Bandung mengolah sendiri sampah organik seperti nasi, sayur, buah, yang berasal dari sisa program MBG dan sampah kantin. Pengolahan sampah dilakukan dengan bantuan tim dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad).

Proses pengolahan dimulai dengan menimbang, mencatat, dan memilah sampah, lalu diolah menjadi kompos. Hasil panen kompos pertama pada 24 Maret 2026 mencapai sekitar 150 kilogram.

Sebagian kompos dijual, sedangkan sisanya digunakan kembali untuk pembuatan bioaktivator dan layering pada siklus berikutnya. Penjualan 54 kilogram kompos senilai Rp 702 ribu serta penjualan 32 kilogram sampah non-organik dan botol plastik Rp 32 ribu.