Dalam wawancara yang dilakukan melalui pesan suara, sutradara film dokumenter “Pesta Babi” Dandhy Dwi Laksono menyampaikan kekecewaannya terhadap respons beberapa perguruan tinggi terhadap acara nonton bareng dan diskusi film tersebut. Ia menilai bahwa kampus seharusnya menjadi ruang yang aman untuk kebebasan berekspresi, tetapi justru dianggap sebagai tempat yang rentan dan tidak ramah terhadap isu-isu sensitif, terutama yang berkaitan dengan Papua.
Menurut Dandhy, hal ini mencerminkan paradoks yang terjadi dalam sistem pendidikan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa beberapa kampus seperti Universitas Islam Negeri Mataram, Universitas Mandalika, dan Universitas Mataram membatalkan acara nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi secara paksa. Di antaranya, Universitas Mataram bahkan membubarkan acara sebelum film diputar.
Wakil Rektor III Universitas Mataram, Sujita, menjelaskan bahwa pemutaran film tidak diizinkan tanpa alasan tertentu. Ia mengaku telah menonton film tersebut dan menilai isi film tidak pantas ditampilkan di lingkungan kampus karena dinilai mendiskreditkan pemerintah. Berdasarkan keputusan bersama, universitas ini menolak pemutaran film Pesta Babi demi menjaga kondusivitas kampus. “Film ini kurang baik untuk ditonton, lebih baik nonton bareng sepak bola,” ujar Sujita.
Dandhy Laksono menilai bahwa dalih menjaga kondusivitas kampus semakin menunjukkan paradoks yang terjadi. Ia menekankan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman untuk membahas berbagai topik yang dianggap tidak cocok dibicarakan di ruang umum. Menurutnya, film Pesta Babi sebelumnya juga telah ditonton oleh siswa SMP, SMA, maupun pondok pesantren. “Ini sangat aneh ketika kemudian justru di luar kampuslah film ini malah dianggap kondusif,” ujarnya.
Film dokumenter “Pesta Babi” berdurasi sekitar 90 menit ini menggambarkan dampak ekspansi lahan dan industri terhadap hilangnya hutan adat, pangan tradisional, serta kedaulatan warga lokal di Papua. Film ini juga menyoroti perjuangan masyarakat adat di wilayah seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dalam melawan ekspansi proyek strategis nasional (PSN).
Isu Sensitif di Lingkungan Kampus
Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan membahas isu-isu penting. Namun, tindakan beberapa perguruan tinggi yang membatalkan acara nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi menunjukkan bahwa tidak semua kampus siap menerima informasi yang dianggap sensitif. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana kampus bisa menjadi ruang yang bebas dan inklusif jika mereka justru membatasi akses terhadap informasi yang relevan.
- Beberapa kampus menilai film Pesta Babi tidak pantas ditayangkan karena dianggap merusak citra pemerintah.
- Tindakan pembubaran acara terjadi meskipun film tersebut sebelumnya telah ditonton oleh berbagai kalangan, termasuk pelajar.
- Ini menunjukkan kontradiksi antara harapan kampus sebagai ruang pendidikan dan praktik yang justru membatasi ruang diskusi.
Peran Kampus dalam Pembentukan Generasi Muda
Kampus memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang kritis dan berpikir mandiri. Namun, jika kampus terlalu cepat menutup pintu terhadap informasi yang dianggap tidak sesuai, maka potensi generasi muda untuk berkembang akan terhambat. Film Pesta Babi, misalnya, memberikan perspektif baru tentang isu-isu yang sering kali diabaikan atau disensor di media massa.
- Film dokumenter seperti Pesta Babi dapat menjadi sarana edukasi yang efektif.
- Kampus seharusnya menjadi tempat yang mendukung pengembangan kritis dan kreativitas mahasiswa.
- Jika kampus terus membatasi akses terhadap informasi, maka mereka justru melemahkan tujuan pendidikan tinggi.
Masa Depan Kampus yang Inklusif
Untuk menciptakan kampus yang lebih inklusif, diperlukan kesadaran dari pihak kampus sendiri. Mereka harus lebih terbuka terhadap berbagai perspektif dan tidak langsung mengambil keputusan berdasarkan asumsi. Dengan demikian, kampus bisa benar-benar menjadi ruang yang aman bagi kebebasan berekspresi dan pembelajaran.
- Perguruan tinggi perlu meninjau kebijakan mereka terkait penyajian informasi.
- Mahasiswa dan civitas akademika harus diberi ruang untuk berdiskusi dan mengeksplorasi gagasan.
- Kampus yang inklusif akan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.






















