Polemik Harga Sepatu Sekolah Rp700 Ribu, Komisi VIII Minta Kemensos Jujur

Keterbukaan Data Penting dalam Polemik Anggaran Sepatu Siswa Sekolah Rakyat

Polemik terkait anggaran sepatu siswa Sekolah Rakyat yang viral di media sosial menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat. Isu bahwa biaya satu pasang sepatu mencapai Rp 700 ribu memicu kecurigaan publik mengenai kewajaran penggunaan dana negara untuk kebutuhan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dalam situasi seperti ini, penting bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan yang transparan dan jelas.

Anggota Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, menyatakan bahwa perhatian masyarakat terhadap program pemerintah adalah hal yang wajar. Ia menekankan bahwa setiap penggunaan anggaran sosial harus dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, jika anggaran sebesar Rp 700 ribu benar-benar merupakan pagu, maka Kementerian Sosial (Kemensos) harus menjelaskan secara rinci spesifikasi produk, mekanisme pengadaan, dan harga akhirnya.

“Publik berhak tahu,” ujarnya kepada wartawan. “Jangan sampai program baik untuk anak-anak miskin justru rusak karena komunikasi yang tidak jelas.”

Penjelasan Pemerintah Harus Terbuka

Ia juga menegaskan bahwa Komisi VIII DPR akan menjalankan fungsi pengawasan terhadap program-program mitra kerja, termasuk Kemensos. Penjelasan pemerintah harus disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Ia menekankan bahwa kritik publik bukanlah gangguan, melainkan bagian dari pengawasan rakyat.

Ketut meminta Kemensos membuka informasi terkait jenis sepatu yang diadakan, standar kualitas, Harga Perkiraan Sendiri (HPS), proses lelang, hingga realisasi anggaran. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai apakah harga yang muncul sudah wajar dan sesuai kebutuhan.

“Ini bukan semata-mata soal mahal atau murah. Yang harus dilihat adalah kewajaran harga, kesesuaian spesifikasi, kualitas barang, serta apakah proses pengadaannya bersih dari intervensi dan permainan,” katanya.

Peran Lembaga Pengawas

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu turut mendukung langkah lembaga pengawas, seperti KPK, BPK, dan BPKP, untuk memastikan tidak ada potensi penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa pada program Sekolah Rakyat. Ia menegaskan bahwa jika ada indikasi penyimpangan, harus diproses tegas. Namun, jika tidak ada, pemerintah juga wajib menjelaskan dengan baik agar tidak berkembang menjadi fitnah atau disinformasi.

Sekolah Rakyat, menurut Ketut, merupakan program yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Karena itu, seluruh fasilitas yang diberikan, mulai dari seragam, sepatu, hingga kebutuhan belajar, harus benar-benar sampai kepada penerima manfaat dengan kualitas yang layak.

“Anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak boleh menerima barang asal-asalan. Mereka berhak mendapatkan fasilitas yang layak. Tetapi kelayakan itu harus tetap dibarengi akuntabilitas anggaran,” ujarnya.

Pengadaan Barang Lokal dan Proses Transparan

Lebih lanjut, ia juga mendorong agar pengadaan kebutuhan siswa Sekolah Rakyat memberi ruang bagi produk dalam negeri dan pelaku usaha lokal selama memenuhi standar mutu, harga wajar, serta proses yang transparan. Program untuk rakyat kecil harus dijaga dari dua hal: jangan sampai kualitasnya rendah, dan jangan sampai anggarannya bocor.

Penjelasan Menteri Sosial

Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul angkat bicara soal polemik harga sepatu untuk program Sekolah Rakyat yang sempat viral di media sosial. Pengadaan sepatu tersebut disebut memiliki harga hingga Rp 700 ribu per pasang untuk siswa di semua jenjang, mulai dari SD hingga SMA, yang memunculkan kecurigaan publik karena dinilai terlalu mahal.

Gus Ipul menyatakan bahwa saat ini sudah tidak bisa untuk melakukan revisi anggaran, apalagi niat untuk korupsi. Ia menegaskan bahwa Kementerian Sosial menjadi salah satu yang diberi tugas untuk melaksanakan program strategis nasional, yaitu Sekolah Rakyat.

“Saya sampaikan sejak awal, sudah bukan waktunya lagi otak-atik anggaran kementerian. Sudah bukan waktunya lagi korupsi, sudah bukan waktunya lagi kongkalikong. Tidak waktunya lagi sekarang ini kita melakukan penyimpangan,” ucap Gus Ipul.

Rincian Spesifikasi dan Harga Penganggaran

Berikut rincian spesifikasi serta perbandingan harga penganggaran sepatu pada program Sekolah Rakyat:

  1. Sepatu Pakaian Dinas Lapangan (PDL) Siswa

    Penganggaran: Rp 700.000/pasang (termasuk kaos kaki)

    Realisasi: Rp 640.000/pasang

  2. Sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH) SD

    Penganggaran: Rp 700.000/pasang

    Realisasi: Rp 590.000/pasang

  3. Sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH) SMP dan SMA

    Penganggaran: Rp 700.000/pasang

    Realisasi: Rp 610.000/pasang

  4. Sepatu Olahraga Guru dan Siswa

    Penganggaran: Rp 500.000/pasang

    Realisasi: Rp 447.000/pasang

  5. Sepatu PDH Guru

    Penganggaran: Rp 700.000/pasang

    Realisasi: Rp 625.000/pasang

  6. Sepatu Harian SD

    Penganggaran: Rp 500.000/pasang

    Realisasi: Rp 250.000/pasang

  7. Sepatu Harian SMP dan SMA

    Penganggaran: Rp 500.000/pasang

    Realisasi: Rp 300.000/pasang