Prestasi Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNG di Ajang Esai Nasional
Dua mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil meraih medali perunggu dalam ajang kompetisi esai tingkat nasional yang digelar di Bali pada 2–3 Mei 2026. Mereka adalah Moh Raihan Mohi dan Clarisa Putri Said, dua mahasiswa semester dua Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNG. Keduanya tergabung dalam satu tim bersama rekan lainnya dan berhasil membawa pulang penghargaan bronze medal pada subtema pendidikan setelah bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kompetisi tersebut diselenggarakan di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dengan rangkaian kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah. Proses seleksi karya tulis menjadi tahap awal sebelum mereka diundang untuk mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri. Dari hasil penilaian panitia, tim Raihan dan Clarisa berhasil lolos dan mendapatkan kesempatan untuk tampil di Bali.
Proses Seleksi dan Persiapan
Moh Raihan Mohi, mahasiswa kelahiran Poyowa Kecil, 7 September 2006, yang kini berdomisili di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, menceritakan perjalanan mereka sejak awal mengikuti kompetisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses seleksi tidak melibatkan ujian tambahan selain pengiriman karya yang dinilai oleh panitia. Setelah lolos, mereka langsung mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya, yaitu presentasi di Bali.
“Jadi memang tidak ada tes tertulis atau semacamnya. Semua berbasis pada karya yang kami kirim. Setelah lolos, barulah kami diundang untuk mempresentasikan hasil tersebut di hadapan dewan juri,” lanjutnya.
Selama berada di Bali, kegiatan berlangsung selama dua hari, yakni pada 2 hingga 3 Mei 2026. Hari pertama diisi dengan sesi presentasi di hadapan dewan juri, sementara hari kedua diisi dengan kegiatan kunjungan lapangan. Raihan menyebutkan bahwa fokus utama pada hari pertama adalah penyampaian ide secara jelas dalam waktu yang terbatas. Sementara itu, kunjungan lapangan menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka.
Penghargaan dan Pelajaran Berharga
Dalam kompetisi tersebut, terdapat berbagai kategori penghargaan, mulai dari juara umum hingga kategori khusus serta pembagian medali berdasarkan subtema. Raihan bersama timnya berhasil meraih bronze medal pada subtema pendidikan.
“Alhamdulillah kami bisa meraih bronze medal pada subtema pendidikan. Bagi kami ini bukan hanya soal hasil, tapi bagaimana proses yang kami jalani dari awal sampai akhir itu benar-benar memberikan banyak pelajaran,” ujarnya.
Motivasi utama mengikuti lomba tersebut adalah untuk menambah pengalaman sekaligus memperluas relasi di tingkat nasional. Raihan juga menekankan bahwa target yang ditetapkan harus diiringi dengan usaha yang maksimal dan doa.
Dukungan Akademik dan Komunikasi Tim
Menurut Raihan, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing serta lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kompetisi. Dalam proses penyusunan karya, ia menyatakan bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Ada bimbingan dari dosen yang membantu mengarahkan, sehingga karya yang mereka susun bisa lebih terstruktur dan siap untuk dilombakan.
Sementara itu, Clarisa Putri Said, mahasiswi yang berdomisili di Kecamatan Limboto, turut membagikan pengalamannya selama mengikuti kompetisi tersebut. Menurutnya, keterbatasan waktu menjadi kendala utama yang cukup menguji kesiapan tim. Tantangan paling terasa saat presentasi, karena waktu yang diberikan hanya empat menit, sementara materi yang kami siapkan cukup banyak.
“Ikut lomba di kancah nasional membutuhkan persiapan yang matang. Kami akhirnya harus mengurangi beberapa bagian materi supaya penyampaiannya tetap efektif dan tidak melebihi waktu. Itu menjadi tantangan sekaligus pembelajaran bagi kami dalam menyusun presentasi yang lebih terarah,” jelas wanita kelahiran Kabupaten Gorontalo, 10 Januari 2008 tersebut.
Aktivitas di Luar Kompetisi
Di luar kompetisi, Raihan juga aktif di bidang literasi kampus. Ia diketahui tengah mengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Literasi dan juga ikut seleksi untuk cabang penulisan puisi. “Selain kegiatan lomba, saya juga aktif di UKM literasi. Kemarin juga sempat lulus seleksi lomba penulisan puisi tingkat nasional, jadi sekarang lebih fokus di pengembangan diri di bidang kepenulisan,” katanya.
Sementara itu, Clarisa aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), yang menurutnya turut membantu membangun kepercayaan diri, terutama saat tampil di forum nasional.
Kesimpulan
Keduanya sepakat, keikutsertaan dalam kompetisi ini tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran yang mereka dapatkan. Mulai dari penyusunan karya, seleksi, hingga presentasi di hadapan juri menjadi pengalaman berharga yang memperkaya kemampuan mereka.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berani mencoba dan mengembangkan diri di berbagai ajang kompetisi. “Jangan pernah berhenti belajar, karena dari proses itulah kita bisa berkembang. Tetap rendah hati, jaga adab, dan jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru,” tutup Raihan dan Clarisa.






















