Kehilangan Mendalam Akibat Tragedi Kecelakaan Bus ALS
Tangis Siti, istri dari Zulpan Effendi alias Maleh (40), menggambarkan rasa kehilangan yang mendalam setelah suaminya menjadi korban tewas dalam kecelakaan tragis. Ia masih sulit percaya bahwa suaminya meninggal dalam kejadian maut tersebut.
Zulpan Effendi, seorang sopir serep bus ALS asal Medan, telah bekerja selama lebih dari dua puluh tahun. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang terbiasa membawa penumpang dari rute Medan ke Jawa Tengah. Selain itu, ia meninggalkan dua anak, seorang laki-laki dan perempuan, yang kini harus hidup tanpa ayahnya.
Kabar duka ini menyebabkan kekacauan di hati keluarga, terutama bagi Siti yang sempat tidak percaya bahwa suaminya menjadi salah satu korban. Saat menerima kabar kecelakaan tersebut, Siti sedang mencuci piring di rumahnya. Pada malam hari, ia mendapat telepon dari temannya yang memberitahu bahwa bus ALS yang mengalami kecelakaan adalah armada yang biasa dikemudikan oleh Zulpan.
“Terus kubilang, bukan itu, karena suamiku pulang ke rumah malam ini,” ujar Siti dengan suara bergetar. Namun, setelah menyalakan ponselnya, pesan dukacita mulai datang dari keluarga, kerabat, dan rekan. Dari situlah Siti akhirnya yakin bahwa suaminya telah meninggal dunia.
Siti memilih untuk menunggu jenazah suaminya di kampung halamannya, Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, alih-alih pergi ke Palembang. Ia juga bertemu dengan Gubernur Sumatra Utara, Bobby Afif Nasution, yang hadir di loket bus PT ALS di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, pada Kamis (7/5/2026).
Kondisi Saat Kecelakaan
Amir Husin (34), adik ipar korban, mengaku terkejut saat menerima kabar duka pada Rabu malam sekira pukul 18.00 WIB. Pihak keluarga yang berdomisili di Lampung langsung bertolak ke Palembang setelah memastikan nomor polisi bus yang terlibat kecelakaan adalah armada yang biasa dibawa oleh Zulpan.
Awalnya mereka tidak percaya, namun setelah dicek nomor polisinya, ternyata benar itu mobil yang sering dibawa oleh almarhum. Amir menjelaskan bahwa satu mobil itu ada dua sopir yang gantian bawa. Berdasarkan informasi dari pihak manajemen PO ALS, Zulpan sedang beristirahat di dalam bus saat kejadian, sementara kemudi dipegang oleh rekan sopirnya.
Hingga saat ini, proses identifikasi jenazah Zulpan masih berlangsung. Pihak rumah sakit telah meminta sampel darah untuk uji DNA, namun prosedur tersebut harus dilakukan oleh saudara kandung korban. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu saudara kandung almarhum yang sedang dalam perjalanan dari Kota Bogor.

Korban dan Proses Identifikasi
Zulpan Effendi merupakan satu dari belasan korban tewas dalam tabrakan hebat antara Bus ALS dan truk tangki minyak di Jalinsum Muratara pada Rabu (6/5) siang. Saat ini, tim DVI Polda Sumsel masih terus melakukan pemeriksaan medis dan pencocokan data post-mortem terhadap seluruh korban yang dibawa ke RS Bhayangkara Palembang.
Direktur Utama PT ALS, Chandra Lubis, memberikan koreksi terhadap angka korban kecelakaan maut yang menimpa salah satu armada busnya di Sumatra Selatan. Dalam konferensi pers di Medan pada Kamis (7/5/2026), Chandra mengungkapkan bahwa total orang yang berada di dalam bus saat kejadian mencapai 18 orang. Rincian terbaru menunjukkan sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 4 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Santunan dan Komitmen Perusahaan
Kepala Kantor Wilayah Jasa Raharja Sumatra Utara, Naswen Andenurdin, menegaskan bahwa seluruh korban kecelakaan bus ALS telah dijamin sesuai peraturan perundang-undangan. Setiap korban meninggal dunia akan mendapatkan santunan sebesar Rp50 juta yang diberikan kepada ahli waris yang sah. Bagi korban yang mengalami luka-luka, Jasa Raharja menanggung biaya perawatan dengan jumlah maksimal sebesar Rp20 juta.
Selain itu, terdapat pula santunan untuk cacat tetap dengan nilai maksimal Rp50 juta serta bantuan biaya pemakaman bagi korban yang tidak memiliki ahli waris. Naswen menyatakan bahwa proses pencairan santunan akan dilakukan segera setelah proses identifikasi korban di RS Bhayangkara Palembang selesai dilakukan oleh pihak berwenang.
Di sisi lain, PT ALS berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan operasional guna menjaga reputasi perusahaan sebagai legenda transportasi di Indonesia. Manajemen ALS juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Utara yang telah memberikan dukungan moril kepada keluarga korban dan pihak perusahaan.






















