Patrolmedia, Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyoroti fakta miris terkait banyaknya anak Indonesia putus sekolah.
Tercatat, lebih dari 4 juta anak usia 7-18 tahun di Indonesia tidak bersekolah, putus sekolah, atau berisiko tinggi putus sekolah
Data itu diperkuat temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kecenderungan putus sekolah justru meningkat pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Gus Ipul pun menegaskan negara harus hadir hingga ke level keluarga.
“Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini invisible people. Bisa jadi ada di sekitar kita, tapi tidak tersentuh program,” ujar Gus Ipul dalam forum Belajaraya 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (2/5/2026), sebagaimana dilansir Kemensos.
Gus Ipul menjelaskan, Kemenaos kini mengandalkan program Sekolah Rakyat sebagai langkah strategis menjangkau kelompok paling rentan.
Tujuannya bukan sekadar memberikan akses pendidikan, tapi juga memutus rantai kemiskinan.
“Sekolah Rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya. Harapannya, ketika anaknya lulus, keluarganya juga ikut naik kelas,” katanya.
Ia mengakui standar pendidikan yang tinggi sulit dicapai tanpa gotong royong.
Menurutnya, pemerintah tak bisa bekerja sendiri, terutama menghadapi tantangan teknologi di tengah keterbatasan anggaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan soal keberhasilan siswa sangat bergantung pada ekosistem di sekitarnya.
“Hampir seluruh teori belajar menunjukkan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih dan lingkungan sosial yang nyaman menjadi kunci,” kata Abdul Mu’ti.
Ia mengatakan birokrasi harus mampu mengisi celah (filling the gap) yang belum terjangkau.
“DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Tantangannya adalah bagaimana menggerakkan dan menyatukan kekuatan itu,” lanjutnya.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti peran besar lembaga pendidikan berbasis komunitas.
Ia menyebut madrasah dan pesantren adalah contoh nyata kekuatan gotong royong di Indonesia.
“Lembaga pendidikan yang paling mengaktualisasikan nilai gotong royong adalah madrasah dan pesantren. Sekitar 95 persen dikelola swasta, dan tetap bertahan dengan kekuatan komunitas,” ungkap Nasaruddin.
Meski sarana prasarana sering kali terbatas, ia menilai lembaga-lembaga ini tetap solid dalam mencetak generasi berkualitas melalui nilai kebersamaan yang kuat.
(Kml/Ft)






















