Local  

Yogya Perbaiki Paket Wisata dan Kalender Event Kampung

Strategi Baru Pemkot Yogyakarta untuk Membangkitkan Sektor Pariwisata

Pemerintah Kota Yogyakarta sedang mengambil langkah strategis baru untuk memacu pertumbuhan sektor pariwisata. Fokus utamanya kini beralih dari investasi skala besar menjadi pembenahan kampung wisata serta pematangan kalender event yang terintegrasi. Perubahan ini dilakukan karena industri pariwisata di Indonesia semakin kompetitif dan berperan penting dalam pendapatan daerah.

Menurut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta Kadri Renggono, tren wisata saat ini lebih mengutamakan pengalaman. Hal ini memaksa setiap wilayah mampu menyediakan konsep yang bisa dilihat, dibeli, dimakan, dan dilakukan oleh wisatawan. Dalam hal ini, peran Pokdarwis sangat penting.

Pokdarwis di Kota Yogya telah berkumpul akhir pekan lalu untuk membahas berbagai tantangan dalam sektor pariwisata. Salah satu pembahasan utama adalah pembenahan paket kampung wisata. Menurut Kadri, kampung wisata harus berani berbenah dan menentukan keunggulan mereka sendiri agar layak dipasarkan. Dari 46 kampung wisata yang ada di Yogyakarta, hanya sebagian kecil yang dikenali wisatawan dan kunjungannya stabil.

Untuk meningkatkan daya tarik kampung wisata, diperlukan kerja sama kuat dengan perhimpunan hotel dan biro perjalanan dalam menciptakan paket wisata yang solid. Investasi pariwisata di masa depan harus lebih inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di kampung-kampung.

Tantangan Kampung Wisata

Kepala Dinas Pariwisata Lucia Daning Krisnawati mengakui bahwa kampung wisata menghadapi tantangan dalam bertahan dan menjaring pengunjung. “Kampung wisata perlu naik kelas, mulai dari tahap rintisan hingga menjadi mandiri,” ujar Daning.

Dari 46 kampung wisata yang ada, hanya satu yang sudah mencapai fase mandiri. Untuk mencapai status tersebut, diperlukan pengemasan dan penjenamaan yang lebih profesional agar kampung wisata mampu menangkap peluang kunjungan.

Didi Aris Hermanto, pegiat kampung wisata dari Pokdarwis Kampung Klitren Yogyakarta, mengatakan bahwa untuk membangkitkan gairah kunjungan, diperlukan magnet khusus yang didukung kebijakan pemerintah. Contohnya, di Kampung Klitren, adanya event Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman setiap pekan membuat aktivitas warga ikut menggeliat. Masyarakat bisa menampilkan beragam atraksi di situ, sehingga menjadi ruang menggerakkan ekonomi kampung wisata.

Kota Festival

Selain fokus pada kampung wisata, Pemkot Yogyakarta juga menata kembali Kalender Event-nya. Tujuannya adalah menjadi Kota Festival Dunia yang mengandalkan event sebagai kunci pendongkrak kunjungan wisata.

Direktur Jogja Festivals Dinda Intan Pramesti Putri mengusulkan sistem kurasi berlapis yang membagi kegiatan ke dalam tiga tingkatan: acara unggulan berskala internasional, kegiatan strategis nasional, dan festival komunitas berbasis partisipasi warga. Kalender event bukan lagi sekadar daftar agenda, melainkan instrumen penjenamaan kota yang menghubungkan sektor seni, budaya, hingga industri MICE dalam satu platform agar mampu bersaing dengan kota festival dunia lainnya seperti Adelaide dan Singapura.

Melalui penguatan identitas lokal di kampung wisata dan orkestrasi festival yang terencana, Yogyakarta dinilai dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak lagi terpusat di kawasan konvensional, melainkan menyebar secara merata di seluruh penjuru kota.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menuturkan bahwa untuk menjadikan Yogya sebagai Kota Festival Dunia, penataan event harus bisa melampaui cara pandang birokrasi yang kaku. “Pemerintah harus berperan sebagai fasilitator yang memberikan sentuhan kecil namun tepat sasaran bagi para pelaku kreatif,” ujar dia.