​Keluh Kesah Zulhas: Harga Plastik Melejit Gegara Minyak Dunia ‘Mendidih’

Harga Plastik
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menerima keluhan dari para pedagang saat berkunjung ke Pasar Minggu terkait lonjakan harga plastik (Foto: Liputan6.com)

Patrolmedia, ​Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyoroti lonjakan harga plastik yang kian meresahkan.

Zulhas menyebut kenaikan ini tak lepas dari status plastik sebagai produk turunan bahan bakar minyak (BBM) atau fosil yang harganya sedang bergejolak.

​Ia mengungkan, hampir seluruh pedagang yang ditemuinya mengeluhkan hal serupa. Kenaikan harga plastik terjadi serentak dalam beberapa hari terakhir.

​”Saya dengar biji plastiknya juga naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM,” ujar Zulhas di Jakarta, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).

Menurut Zulhas, kenaikan ini sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Ia bahkan menyebut harga plastik tidak lagi sekadar naik, melainkan “melonjak tajam”.

​Merespons kondisi ini, Kemenko Pangan berencana memanggil pihak terkait untuk mengurai benang kusut meroketnya harga plastik di pasaran.

​”Ya nanti kita tentu akan kita bahas secara khusus, kok tiba-tiba naiknya begitu tinggi,” tutur Zulhas.

​Sebagai informasi, kunjungan Zulhas ke Pasar Minggu bertujuan untuk memantau stok dan harga pangan pasca-Lebaran.

Namun, ia justru disambut curhatan pilu dari para pedagang mengenai harga pembungkus barang dagangan tersebut.

​Salah satu pedagang sayur, Gemi, mengaku terpukul dengan kenaikan harga plastik yang mencapai Rp 6.000 per pack untuk semua ukuran.

​”Ini biasa Rp 17.000 jadi Rp 23.000. Sama itu, sama semua pokoknya plastik per pack (naik) Rp 6 ribu,” kata Zulhas menirukan keluhan pedagang.

​Akibat lonjakan ini, biaya operasional pedagang membengkak drastis.

Gemi menyebut biasanya ia hanya menghabiskan Rp 60.000 untuk stok plastik, kini modalnya harus tembus Rp 100.000.

Walhasil, margin keuntungan dari jualan bumbu dapur pun makin terjepit.

​Masalah ini ternyata tak hanya menghantam pedagang kecil. Perusahaan pelat merah sekelas Perum Bulog pun ikut terdampak.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengaku mulai menjalin koordinasi dengan produsen plastik.

​Pasalnya, distribusi beras Bulog sangat bergantung pada kemasan plastik dan karung. Rizal berharap ada harga khusus agar harga sembako tidak ikut terseret naik.

​”Kami juga saling berbagi, dalam arti supaya memberikan harga yang betul-betul terjangkau sehingga tidak menaikkan harga-harga sembako,” ujar Rizal di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu.

​Melambungnya harga plastik tak lepas dari situasi geopolitik global. Bahan baku plastik merupakan produk petrokimia turunan minyak bumi.

Saat ini, harga minyak dunia tengah “mendidih” akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

​Blokade atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz membuat ekspor minyak dari negara-negara Teluk terhambat.

Kelangkaan pasokan inilah yang memicu efek domino, mulai dari kenaikan harga BBM, biaya logistik, hingga merembet ke harga biji plastik di pasar domestik.

 

(Ipl/Ft)